BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Penelitian pada dasarnya adalah suatu kegiatan atau
proses yang sistematis untuk memecahkan masalah yang dilakukan
dengan menerapkan metode ilmiah. Tujuan dari kegiatan ilmiah adalah untuk menjelaskan, memprediksikan, membandingkan, mencari
hubungan, dan menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki. Komponen penting yang harus ada dalam penelitian adalah
tujuan penelitian sehingga dapat ditentukan metode yang tepat untuk penyelesain
masalah. Kegiatan penyelesaian masalah yang disebut penelitian dapat dilakukan
secara sistematis dengan mengikuti metodologi, dikontrol, dan didasarkan teori
yang ada serta diperkuat dengan gejala yang ada (Sukardi, 2004).
Pada prinsipnya metode penelitian itu digolongkan
menjadi dua, yaitu metode non ilmiah dan metode ilmiah. Dibandingkan dengan
sumber pengetahuan yang lain, seperti pengalaman, otoritas, penalaran induktif,
dan penalaran deduktif, penerapan metode ilmiah tidak diragukan, paling
efisien, dan paling terpercaya.
Banyak metode penelitian atau model rancangan
penelitian yang biasa digunakan dalam berbagai penelitian terutama dalam bidang
pendidikan, salah satunya adalah metode penelitian korelasional. Fenomena yang
terjadi dalam dunia pendidikan terdapat hubungan antar unsur-unsurnya. Seperti
hubungan antara guru dengan siswa, guru dengan materi atau kurikulum, materi
dengan evaluasi pembelajaran, dan masih banyak yang lainnya. Hubungan-hubungan
tersebut dapat diketahui tingkat korelasinya secara ilmiah dan secara statistik
melalui metode penelitian korelasional.
Metode penelitian korelasi (correlational research) adalah suatu penelitian yang melibatkan
tindakan pengumpulan data guna menentukan apakah ada hubungan dan tingkat
hubungan antara dua variabel atau lebih (Sukardi, 2003). Penelitian ini
sifatnya ex-post-facto yaitu mengungkapkan fakta yang sudah terjadi di mana
penyebabnya tidak bisa diintervensi. Adanya
hubungan dan tingkat variabel sangat penting, karena dengan mengetahui tingkat
hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan tujuan
penelitian.
Penelitian korelasional memiliki kelemahan dan kelebihan yang perlu diketahui oleh
peneliti, sehingga dengan adanya hal-hal ini maka penulis dapat menyusun makalah ini agar dapat lebih mengetahui tentang metode penelitian korelasional, tujuan, kelemahan dan kelebihan metode penelitian korelasional.
B.
Rumusan
Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas,
maka penyusun merumuskan masalah sebagai berikut:
1.
Apakah yang dimaksud dengan metode penelitian
korelasional?
2.
Apakah tujuan pelaksanaan metode penelitian
korelasional?
3.
Bagaimanakah langkah-langkah pelaksanaan metode
penelitian korelasional?
4.
Apakah kelebihan dan kelemahan dari metode
penelitian korelasional?
C.
Tujuan Penulisan
Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pengertian metode penelitian korelasional
2.
Untuk mengetahui tujuan pelaksanaan metode penelitian korelasional
3.
Untuk mengetahui langkah-langkah pelaksanaan metode penelitian korelasional
4.
Untuk mengetahui kelebihan dan kelemahan metode penelitian korelasional
D.
Manfaat
Penulisan
Adapun manfaat yang
diperoleh dari penulisan makalah ini adalah sebagai berikut:
1.
Dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan mengenai metode penelitian korelasional.
2.
Sebagai masukan
bagi mahasiswa atau peneliti dalam menerapkan dan mengembangkan metode penelitian
korelasional.
BAB II
KAJIAN TEORITIS
A.
Pengertian Penelitian Korelasional
Penelitian korelasi atau korelasional
adalah suatu penelitian untuk mengetahui hubungan dan tingkat hubungan antara
dua variabel atau lebih tanpa ada upaya untuk mempengaruhi variabel tersebut
sehingga tidak terdapat manipulasi variabel (Faenkel dan Wallen, 2008:328).
Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting karena dengan mengetahui
tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat mengembangkannya sesuai dengan
tujuan penelitian. Jenis penelitian ini biasanya melibatkan ukuran
statistik/tingkat hubungan yang disebut dengan korelasi (Mc Millan dan
Schumacher, dalam Syamsuddin, 2009:25).
Menurut Gay (dalam Sukardi, 2008:166) bahwa “Correlational
research is a research study that involves collecting data in order to
determine whether and to what degree a relationship exists between two or more
quantifiable variables” Penelitian
korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan pengumpulan data guna
menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara dua variabel atau
lebih. Penelitian ini dilakukan, ketika kita ingin mengetahui tentang ada
tidaknya dan kuat lemahnya hubungan variabel yang terkait dalam suatu objek
atau subjek yang diteliti. Adanya hubungan dan tingkat variabel ini penting,
karena dengan mengetahui tingkat hubungan yang ada, peneliti akan dapat
mengembangkannya sesuai dengan tujuan penelitian.
Selanjutnya Gay (dalam Sukardi, 2008:165) menyatakan
bahwa penelitian
korelasional merupakan salah satu bagian penelitian ex-post facto karena biasanya peneliti tidak
memanipulasi keadaan variabel yang ada dan langsung mencari keberadaan hubungan
dan tingkat hubungan variabel yang direfleksikan dalam koefisien korelasi. Disamping itu Fraenkel dan Wallen (2008:329) menyebutkan
penelitian korelasi ke dalam penelitian deskripsi karena penelitian tersebut
merupakan usaha menggambarkan kondisi yang sudah terjadi. Dalam penelitian ini,
peneliti berusaha menggambarkan kondisi sekarang dalam konteks kuantitatif yang
direfleksikan dalam variabel.
Penelitian korelasional dilakukan dalam
berbagai bidang diantaranya pendidikan, sosial, maupun ekonomi. Penelitian ini
hanya terbatas pada panafsiran hubungan antarvariabel saja tidak sampai pada
hubungan kausalitas, tetapi penelitian ini dapat dijadikan acuan untuk diajadi
penelitian selanjutnya seperti penelitian eksperimen (Emzir, 2009:38). Menurut
Sukardi (2004:166) penelitian korelasi mempunyai tiga karakteristik penting
untuk para peneliti yang hendak menggunakannya. Tiga karakteristik tersebut
adalah sebagai berikut:
1.
Penelitian korelasi tepat jika variabel kompleks dan peneliti tidak mungkin
melakukan manipulasi dan mengontrol variabel seperti dalam penelitian
eksperimen.
2.
Memungkinkan variabel diukur secara intensif dalam setting (lingkungan)
nyata.
3.
Memungkinkan peneliti mendapatkan derajat asosiasi yang signifikan.
Disamping itu, penelitian korelasi dilakukan untuk
menjawab tiga pertanyaan penelitian tentang dua variabel atau lebih. Pertanyaan
tersebut yaitu:
1. Adakah hubungan diantara dua variabel?
2. Bagaimanakah arah hubungan tersebut?
3. Berapa besar/ jauh hubungan tersebut dapat
diterangkan?
Penelitian korelasional bertujuan untuk menentukan ada
tidaknya hubungan, kearah mana hubungan tersebut (positif/negatif), dan
seberapa jauh hubungan ada antara dua variabel atau lebih (yang dapat diukur).
Misalnya hubungan antara kecerdasan dengan kreativitas, semangat dengan
pencapaian, tinggi badan dengan umur, nilai bahasa Inggris dengan nilai
statistika, dan sebagainya. Tujuan dari suatu penyelidikan korelasi adalah
untuk menetapkan atau mengungkapkan suatu hubungan atau menggunakan
hubungan-hubungan dalam membuat prediksi (prakiraan).
Dalam penelitian korelasional, para peneliti biasanya
hanya mendasarkan pada penampilan variabel sebagaimana adanya, tanpa mengatur
kondisi atau memanipulasi variabel tersebut. Oleh karena itu, peneliti
hendaknya mengetahui cukup banyak alasan yang kuat guna mempertahankan hasil
hubungan yang ditemukan.
Penelitian korelasi lebih tepat, jika dalam penelitian
peneliti memfokuskan usahanya dalam mencapai informasi yang dapat menerangkan
adanya fenomena yang kompleks melalui hubungan antar variabel. Sehingga,
peneliti juga dapat melakukan eksplorasi studi melalui teknik korelasi parsial,
di mana peneliti mengeliminasi salah satu pengaruh variabel agar dapat dilihat
hubungan dua variabel yang dianggap penting.
Dibidang pendidikan, studi korelasi biasanya digunakan
untuk melakukan penelitian terhadap sejumlah variabel yang diperkirakan
mempunyai peranan yang signifikan dalam mencapai proses pembelajaran.
Sebagai contoh, misalnya tentang pencapaian hasil belajar dengan motivasi
internal, belajar strategi, intensitas kehadiran mengikuti kuliah, dan lain
sebagainya.
Seorang peneliti tepat menggunakan penelitian korelasi
ketika peneliti mempunyai beberapa alasan penting, di antaranya sebagai berikut:
1.
Ada kebutuhan informasi bahwa ada hubungan antarvariabel dimana koefisien
korelasi dapat mencapainya.
2.
Penelitian korelasi perlu diperhitungkan kegunaannya apabila variabel yang
muncul itu kompleks, dan peneliti tidak mungkin dapat melakukan kontrol dan
memanipulasi variabel-variabel tersebut.
3.
Dalam penelitian memungkinkan dilakukan pengukuran beberapa variabel dan
hubungan yang ada dalam setting yang realistis. Alasan penting lain
adalah bahwa penelitian korelasi tepat dilakukan, jika salah satu tujuan
penelitian adalah mencapai formula prediksi, yaitu keadaan yang menunjukkan
adanya asumsi hubungan antarvariabel.
B.
Tujuan Penelitian Korelasional
Tujuan penelitian korelasional menurut Suryabrata
(1994:24) adalah untuk mendeteksi sejauh mana variasi-variasi pada suatu faktor
berkaitan dengan variasi-variasi pada satu atau lebih faktor lain berdasarkan
pada koefisien korelasi.
Sedangkan menurut Gay dalam Emzir (2007:38) bahwa tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan
hubungan antara variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk
membuat prediksi. Studi hubungan
biasanya menyelidiki sejumlah variabel yang dipercaya berhubungan dengan suatu
variabel mayor, seperti hasil belajar variabel yang ternyata tidak mempunyai
hubungan yang tinggi dieliminasi dari perhatian selanjutnya.
C.
Ciri-Ciri Penelitian Korelasional
1.
Penelitian macam ini cocok dilakukan bila variabel-variabel yang diteliti
rumit dan/atau tak dapat diteliti dengan metode eksperimental atau tak dapat
dimanipulasi.
2.
Studi macam ini memungkinkan pengukuran beberapa variabel dan saling
hubungannya secara serentak dalam keadaan realistiknya.
3.
Output dari penelitian ini adalah taraf atau tinggi-rendahnya saling
hubungan dan bukan ada atau tidak adanya saling hubungan tersebut.
4.
Dapat digunakan untuk meramalkan variabel tertentu berdasarkan variabel
bebas.
D.
Macam-Macam Penelitian Korelasional
1.
Penelitian Hubungan
Menurut Usman (2006,197) bahwa korelasi
adalahistilah statistik yang menyatakan derajat hubungan linier antara dua
variabel atau lebih. Penelitian hubungan, relasional, atau korelasi sederhana digunakan untuk menyelidiki hubungan antara
hasil pengukuran terhadap dua variabel yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tingkat atau derajat hubungan antara
sepasang variabel (bivariat). Lebih
lanjut, penelitian jenis ini seringkali menjadi bagian dari penelitian lain,
yang dilakukan sebagai awal untuk proses penelitian lain yang kompleks.
Misalnya, dalam penelitian korelasi multivariat yang meneliti hubungan beberapa
variabel secara simultan pada umumnya selalu diawali dengan penelitian hubungan
sederhana untuk melihat bagaimana masing-masing variabel tersebut berhubungan
satu sama lain secara berpasangan.
Dalam penelitian korelasi sederhana ini
hubungan antar variabel tersebut ditunjukkan oleh nilai koefisien korelasi.
Nilai koefisien korelasi merupakan suatu alat statistik yang digunakan
untuk membantu peneliti dalam memahami tingkat hubungan tersebut. Nilai
koefisien bervariasi dari -1,00 sampai +1,00 diperoleh dengan menggunakan
teknik statistik tertentu sesuai dengan karakter dari data masing-masing
variabel.
Pada dasarnya, desain penelitian hubungan
ini cukup sederhana, yakni hanya dengan mengumpulkan skor dua variabel dari
kelompok subjek yang sama dan kemudian menghitung koefisien korelasinya. Oleh
karena itu, dalam melakukan penelitian ini, pertama-tama peneliti menentukan
sepasang variabel yang akan diselidiki tingkat hubungannya. Pemilihan kedua
variabel tersebut harus didasarkan pada teori, asumsi, hasil penelitian yang
mendahului, atau pengalaman bahwa keduanya sangat mungkin berhubungan.
2.
Penelitian Prediktif
Dalam pelaksanaan di bidang pendidikan,
banyak situasi yang menghendaki dilakukannya prediksi atau peramalan. Pada awal
tahun ajaran baru, misalnya, setiap sekolah karena keterbatasan fasilitas,
seringkali harus menyeleksi para pendaftar yang akan diterima menjadi calon
siswa baru.
Penelitian korelasi jenis ini memfokuskan
pada pengukuran terhadap satu variabel atau lebih yang dapat dipakai untuk
memprediksi atau meramal kejadian di masa yang akan datang atau variabel lain.Penelitian ini sebagaimana penelitian
relasional, melibatkan penghitungan korelasi antara suatu pola tingkah laku
yang kompleks, yakni variabel yang menjadi sasaran prediksi atau yang
diramalkan kejadiannya (disebut kriteria), dan variabel lain yang diperkirakan
berhubungan dengan kriteria, yakni variabel yang dipakai untuk memprediksi
(disebut prediktor). Teknik yang digunakan untuk mengetahui tingkat prediksi
antara kedua variabel tersebut adalah teknik analisis regresi yang menghasilkan
nilai koefisien regresi, yang dilambangkan dengan R.
Perbedaan yang utama antara penelitian
relasional dan penelitian jenis ini terletak pada asumsi yang mendasari
hubungan antar variabel yang diteliti. Dalam penelitian relasional, peneliti
berasumsi bahwa hubungan antara kedua variabel terjadi secara dua arah atau
dengan kata lain, ia hanya ingin menyelidiki apakah kedua variabel mempunyai
hubungan, tanpa mempunyai anggapan bahwa variabel yang muncul lebih awal dari
yang lain. Oleh karena itu, kedua variabel biasanya diukur dalam waktu yang
bersamaan. Sedang dalam penelitian prediktif, di samping ingin menyelidiki
hubungan antara dua variabel, peneliti juga mempunyai anggapan bahwa salah satu
variabel muncul lebih dahulu dari yang lain, atau hubungan satu arah. Oleh
karena itu, tidak seperti penelitian relasional, kedua variabel diukur dalam
waktu yang berurutan, yakni variabel prediktor diukur sebelum variabel kriteria
terjadi, dan tidak dapat sebaliknya.
3.
Korelasi Multivariat
Teknik untuk mengukur dan menyelidiki
tingkat hubungan antara kombinasi dari tiga variabel atau lebih disebut teknik
korelasi multivariat. Ada beberapa teknik yang dapat digunakan, dua diantaranya
yang akan dibahas di sini adalah: regresi ganda atau multiple
regresion dan korelasi kanonik.
Regresi ganda. Memprediksi suatu fenomena yang kompleks
hanya dengan menggunakan satu faktor (variabel prediktor) seringkali hanya
memberikan hasil yang kurang akurat. Dalam banyak hal, semakin banyak informasi
yang diperoleh semakin akurat prediksi yang dapat dibuat, yakni dengan menggunakan kombinasi dua
atau lebih variabel prediktor, prediksi terhadap variabel kriteria akan lebih
akurat dibanding dengan hanya menggunakan masing-masing variabel prediktor
secara sendiri-sendiri. Dengan demikian, penambahan jumlah prediktor akan
meningkatkan akurasi prediksi kriteria.
Korelasi kanonik. Pada dasarnya teknik ini sama dengan
regresi ganda, dimana beberapa variabel dikombinasikan untuk memprediksi
variabel kriteria. Akan tetapi, tidak seperti regresi ganda yang hanya
melibatkan satu variabel kriteria, korelasi kanonik melibatkan lebih dari satu
variabel kriteria. Korelasi ini berguna untuk menjawab pertanyaan, bagaimana
serangkaian variabel prediktor memprediksi serangkai variabel kriteria? Dengan
demikian, korelasi kanonik ini dapat dianggap sebagai perluasan dari regresi
ganda, dan sebaliknya, regresi berganda dapat dianggap sebagai bagian dari
korelasi kanonik. Seringkali korelasi ini digunakan dalam penelitian eksplorasi yang
bertujuan untuk meentukan apakah sejumlah variabel mempunyai hubungan satu sama
lain yang serupa atau berbeda.
E.
Rancangan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasional mempunyai berbagai
jenis rancangan. Shaughnessy dan Zechmeinter (dalam Emzir, 2009:48-51), yaitu:
1.
Korelasi Bivariat
Rancangan penelitian korelasi bivariat
adalah suatu rancangan penelitian yang bertujuan untuk mendeskripsikan hubungan
antara dua variabel. Hubungan antara dua variabel diukur. Hubungan tersebut
mempunyai tingkatan dan arah. Tingkat hubungan (bagaimana kuatnya hubungan)
biasanya diungkapkan dalam angka antar -1,00 dan +1,00, yang dinamakan
koefisien korelasi. Korelasi zero (0) mengindikasikan tidak ada hubungan.
Koefisien korelasi yang bergerak ke arah -1,00 atau +1,00, merupakan korelasi
sempurna pada kedua ekstrem (Emzir, 2009:48).
Arah hubungan diindikasikan oleh simbol “-“ dan “+”. Suatu korelasi
negatif berarti bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin rendah
pula skor pada variabel lain atau sebaliknya. Korelasi positif mengindikasikan
bahwa semakin tinggi skor pada suatu variabel, semakin tinggi pula skor pada
variabel lain atau sebaliknya (Emzir, 2009:48).
2.
Regresi dan Prediksi
Jika terdapat korelasi antara dua variabel
dan kita mengetahui skor pada salah satu variabel, skor pada variabel kedua
dapat diprediksikan. Regresi merujuk pada seberapa baik kita dapat membuat
prediksi ini. Sebagaimana pendekatan koefisien korelasi baik -1,00 maupun
+1,00, prediksi kita dapat lebih baik.
3.
Regresi Jamak (Multiple Regresion)
Regresi jamak merupakan perluasan regresi
dan prediksi sederhana dengan penambahan beberapa variabel. Kombinasi beberapa
variabel ini memberikan lebih banyak kekuatan kepada kita untuk membuat
prediksi yang akurat. Apa yang kita prediksikan disebut variabel kriteria (criterion
variable). Apa yang kita gunakan untuk membuat prediksi, variabel-variabel
yang sudah diketahui disebut variabel prediktor (predictor variables).
4.
Analisis Faktor
Prosedur statistik ini mengidentifikasi
pola variabel yang ada. Sejumlah besar variabel dikorelasikan dan terdapatnya
antarkorelasi yang tinggi mengindikasikan suatu faktor penting yang umum.
5.
Rancangan korelasional yang digunakan
untuk menarik kesimpulan kausal
Terdapat dua rancangan yang dapat digunakan
untuk membuat pernyataan-pernyataan tentang sebab dan akibat menggunakan metode
korelasional. Rancangan tersebut adalah rancangan analisis jalur (path
analysis design) dan rancangan panel lintas-akhir (cross-lagged panel
design).
Analisis jalur digunakan untuk menentukan
mana dari sejumlah jalur yang menghubungkan satu variabel dengan variabel
lainnya. Sedangkan desain panel lintas akhir mengukur dua variabel pada dua
titik sekaligus.
6.
Analisis sistem (System Analysis)
Desain ini melibatkan penggunaan prosedur
matematik yang kompleks/rumit untuk menentukan proses dinamik, seperti
perubahan sepanjang waktu, jerat umpan balik serta unsur dan aliran hubungan.
F.
Langkah-Langkah Penelitian Korelasional
Pada dasarnya penelitian korelasioanal melibatkan
perhitungan korelasi antara variabel yang komplek (variabel kriteria) dengan
variabel lain yang dianggap mempuyai hubungan (variabel prediktor).
Langkah-langkah tersebut penelitian ini antara lain secara umum menurut Mc Milan dan Schumaker
(2003), yaitu penentuan masalah, peninjauan masalah atau studi pustaka,
pertanyaan penelitian atau hipotesis, rancangan penelitian dan metodologi
penelitian, pengumpulan data, dan analisis data, simpulan.
1. Penentuan Masalah
Dewey (dalam Syamsuddin, 2009:42) menyatakan masalah
dalam penelitian merupakan kesenjangan antara yang diharapkan dengan kenyataan
yang ada atau sesuatu yang dijadikan target yang telah ditetapkan oleh
peneliti, tetapi target tersebut tidak tercapai. Disetiap penelitian langkah
awal yang harus dilakukan peneliti adalah menentukan masalah penelitian yang
akan menjadi fokus studinya. Ciri-ciri permasalahan yang layak diteliti adalah
yang dapat diteliti (researchable), mempunyai kontribusi atau
kebermanafaatan bagi banyak pihak, dapat didukung oleh data empiris serta
sesuai kemampuan dan keinginan peneliti (Sukardi, 2004:27-28). Dalam penelitian
korelasional, masalah yang dipilih harus mempunyai nilai yang berarti dalam
pola perilaku fenomena yang kompleks yang memerlukan pemahaman. Disamping itu,
variabel yang dimasukkan dalam penelitian harus didasarkan pada pertimbangan,
baik secara teoritis maupun nalar, bahwa variabel tersebut mempunyai hubungan
tertentu. Hal ini biasanya dapat diperoleh berdasarkan hasil penelitian
sebelumnya.
2. Peninjauan Masalah
atau Studi Kepustakaan
Setelah penentuan masalah, kegiatan
penelitian yang penting adalah studi kepustakaan yang menjadi dasar pijakan
untuk memperoleh landasan teori, kerangka pikir dan penentuan dugaan sementara
sehingga peneliti dapat mengerti, mengalokasikan, mengorganisasikan, dan
menggunakan variasi pustaka dalam bidangnya. Macam-macam sumber untuk
memperoleh teori yang berkaitan dengan masalah yang diteliti adalah dari
jurnal, laporan hasil penelitian, majalah ilmiah, surat kabar, buku yang
relevan, hasil-hasil seminar, artikel ilmiah dan narasumber.
3. Rancangan Penelitian atau
Metodologi Penelitian
Pada tahap ini peneliti menentukan subjek
penelitian yang akan dipilih dan menentukan cara pengolahan datanya. Subyek
yang dilibatkan dalam penelitian ini harus dapat diukur dalam variabel-variabel
yang menjadi fokus penelitian. Subyek tersebut harus relatif homogen dalam
faktor-faktor di luar variabel yang diteliti yang mungkin dapat mempengaruhi
variabel terikat. Bila subyek yang dilibatkan mempunyai perbedaan yang berarti
dalam faktor-faktor tersebut, korelasi antar variabel yang diteliti menjadi
kabur. Untuk mengurangi heterogenitas tersebut, peneliti dapat
mengklasifikasikan subyek menjadi beberapa kelompok berdasarkan tingkat faktor
tertentu kemudian menguji hubungan antar variabel penelitian untuk
masing-masing kelompok.
4. Pengumpulan Data
Berbagai jenis instrumen dapat digunakan
untuk mengukur dan mengumpulkan data masing-masing variabel, seperti angket,
tes, pedoman interview dan pedoman observasi, tentunya disesuaikan dengan
kebutuhan. Data yang dikumpulkan dengan instrumen-instrumen tersebut harus
dalam bentuk angka. Dalam penelitian korelasional, pengukuran variabel dapat
dilakukan dalam waktu yang relatif sama. Sedangkan dalam penelitian prediktif, variabel
prediktor harus diukur selang beberapa waktu sebelum variabel kriteria terjadi.
Jika tidak demikian, maka prediksi terhadap kriteria tersebut tidak ada
artinya.
5. Analisis data
Pada dasarnya, analisis dalam penelitian
korelasional dilakukan dengan cara mengkorelasikan hasil pengukuran suatu
variabel dengan hasil pengukuran variabel lain. Dalam penelitian korelasional,
teknik korelasi bivariat, sesuai dengan jenis datanya, digunakan untuk
menghitung tingkat hubungan antara variabel yang satu dengan yang lain. Sedang
dalam penelitian prediktif, teknik yang digunakan adalah analisis regresi untuk
mengetahui tingkat kemampuan prediktif variabel prediktor terhadap variabel
kriteria. Namun demikian, dapat pula digunakan analisis korelasi biasa bila
hanya melibatkan dua variabel. Bila melibatkan lebih dari dua variabel,
misalnya untuk menentukan apakah dua variabel prediktor atau lebih dapat
digunakan untuk memprediksi variabel kriteria lebih baik dari bila digunakan
secara sendiri-sendiri, teknik analisis regresi ganda, multiple regresion atau
analisis kanonik dapat digunakan. Hasil analisis tersebut biasanya
dilaporkan dalam bentuk nilai koefisien korelasi atau koefisien regresi serta
tingkat signifikansinya, disamping proporsi variansi yang disumbangkan oleh
variabel bebas terhadap variabel terikat.
Interpretasi data pada penelitian
korelasional adalah bila dua variabel hubungkan maka akan menghasil koefisen
korelasi dengan simbol (r). Hubungan variabel tersebut dinyatakan dengan
nilai dari -1 samapai +1. Nilai (-) menunjukan korelasi negatif yang
variabelnya saling bertolak belakang dan nilai (+) menunjukkan korelasi positif
yang variabelnya saling mendekati ke arah yang sama (Syamsudin, 2009:25).
6. Simpulan
Berisi tentang hasil analisis deskripsi
dan pembahasan tentang hal yang diteliti dengan menggunakan mudah dipahami
pembaca secara ringkas.
G.
Kelebihan dan Kelemahan Penelitian Korelasional
Penelitian korelasi mempunyai kelebihan yang dapat
diterangkan sebagai berikut:
1.
Berguna dalam mengatasi masalah yang berkaitan dengan bidang pendidikan,
ekonomi, sosial, karena dengan penelitian ini peneliti dimungkinkan untuk
mengukur beberapa variabel dan hubungannya secara simultan.
2.
Dengan penelitian korelasi, dimungkinkan beberapa variabel yang mempunyai
kontribusi pada suatu variabel tertentu dapat diselidiki secara intensif.
c. Penelitian korelasi pada umumnya melakukan studi
tingkah laku dengan setting yang realistis.
d. Peneliti dapat melakukan analisis prediksi tanpa
memerlukan sampel yang besar.
Sedangkan kelemahan penelitian korelasional yang perlu
diperhatikan oleh para peneliti adalah bahwa dengan penelitian korelasi,
peneliti hanya mengidentifikasi apa yang terjadi dengan tanpa melakukan
manipulasi dan mengontrol variabel. Di samping itu, dengan penelitian tersebut
peneliti tidak dapat membangun hubungan sebab akibat.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diperoleh dari pembahasan di
atas yaitu:
1.
Penelitian korelasi adalah suatu penelitian yang melibatkan tindakan
pengumpulan data guna menentukan, apakah ada hubungan dan tingkat hubungan antara
dua variabel atau lebih.
2.
Tujuan penelitian korelasional adalah untuk menentukan hubungan antara
variabel, atau untuk menggunakan hubungan tersebut untuk membuat prediksi.
3.
Langkah-langkah penelitian korelasional adalah: penentuan masalah,
peninjauan masalah atau studi pustaka, pertanyaan penelitian atau hipotesis,
rancangan penelitian dan metodologi penelitian, pengumpulan data, dan
analisis data, simpulan.
3.
Kelebihan metode penelitian korelasional adalah peneliti dimungkinkan untuk mengukur beberapa variabel
dan hubungannya secara simultan, dimungkinkan
beberapa variabel yang mempunyai kontribusi pada suatu variabel tertentu dapat
diselidiki secara intensif, studi tingkah
laku dengan setting yang realistis.analisis prediksi tanpa memerlukan
sampel yang besar.
4.
Kelemahan metode penelitian korelasional adalah peneliti hanya mengidentifikasi apa yang terjadi
dengan tanpa melakukan manipulasi dan mengontrol variabel dan tidak dapat membangun hubungan sebab akibat.
DAFTAR
PUSTAKA
Abidin, Muhammad Zainal. 2008. Penelitian
Korelasional. (artikel). Dalam http://www.Muhammad Zainal Abidin Personal Blog.html. di akses tanggal 25 September 2014.
Emzir. 2009. Metodologi Penelitian
Pendidikan Kualitatif dan Kuantitatif. Jakarta: PT Raja Grafindo Pergoda.
Fraenkel, J.R dan Wellen, N.E. 2008. How
to Design and Evaluate research in Education. New York: McGraw-Hill.
McMilan, J dan Schumacher, S. 2003. Research
in Education. New York: Longman.
Sukardi. 2004. Metodologi Penelitian
Pendidikan Kompetensi dan Praktiknya. Jakarta: Bumi Aksara.
Suryabrata, S.
2005. Metodologi penelitian pendidikan (Kompetensi dan
Praktiknya). Jakarta: Raja Grafindo
Persada.
Syamsuddin dan Vismaia S. Damaianti. 2009.
Metodologi Penelitian Pendidikan Bahasa. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.
Usman, H. dan
Purnomo S.A. 2006. Pengantar Statistika. Jakarta: Bumi Aksara.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar