PENERAPAN PENDEKATAN STARTER
EKSPERIMEN PADA PEMBELAJARAN KIMIA
Afrizen, S.Pd
Guru Kimia SMK Negeri 2 Binjai
Email: afrizen.nst@gmail.com
ABSTRAK
Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui apakah peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui
penerapan Pendekatan Starter Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit
dan non elektrolit lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa
yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen. Populasi yang
digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X MAS Al Washliyah-22
Tembung yang terdiri dari 2 kelas dan masing-masing kelas sampel berjumlah 38
orang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi, dimana
kelas pertama sebagai kelas eksperimen dan kelas kedua sebagai kelas kontrol. Pada
kelas eksperimen diterapkan pembelajaran melalui Pendekatan Starter Eksperimen
dengan nilai rata-rata post test siswa adalah 70,39 dan nilai rata-rata
peningkatan hasil belajar sebesar 35,39. Sedangkan pada kelas kontrol
diterapkan pembelajaran tanpa Pendekatan Starter Eksperimen dengan nilai
rata-rata post test siswa adalah 67,76 dan nilai rata-rata peningkatan hasil
belajar sebesar 30,92. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa harga thitung
= 2,499. Sedangkan harga ttabel = 1,668 pada taraf signifikansi
5% dan dk = 74, sehingga thitung > ttabel. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar kimia siswa yang
diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen pada pokok bahasan
larutan elektrolit dan non elektrolit lebih tinggi daripada peningkatan hasil
belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen.
Kata
Kunci: kimia, pendekatan starter eksperimen, hasil belajar.
PENDAHULUAN
Pengalaman pendidikan yang sering
dihadapi oleh guru-guru kimia di sekolah menengah adalah kebanyakan siswa
menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga
siswa sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal
ini mungkin disebabkan oleh penyajian materi yang kurang menarik dan
membosankan, sehingga terkesan ”angker”, sulit, dan menakutkan bagi siswa
Sekolah Menengah Umum (SMU), dan
akhirnya banyak siswa SMU yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Sakkashiri
dalam Situmorang, 2000).
Ilmu kimia merupakan ilmu yang
diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas
pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam; khususnya yang
berkaitan dengan komposisi, struktur, dan sifat transformasi, dinamika dan
energetika zat. Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia di SMA harus melibatkan
keterampilan dan penalaran. Di samping itu, fungsi dan tujuan pembelajaran
kimia di SMA salah satunya adalah memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode
ilmiah melalui eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan
merancang eksperimen melalui pemasangan instrument, pengambilan, pengolahan dan
interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan
tertulis (Depdiknas, 2003). Salah satu karakteristik pengajaran mata pelajaran
kimia di SMA yang teramat penting untuk ditekankan pada guru kimia adalah
pembelajaran kimia harus lucu dan menarik. Hal ini akan membangkitkan motivasi
belajar serta pembelajaran seumur hidup. Kimia akan menjadi “student
friendly” bila pengajarannya lebih fungsional/aplikatif, ilustratif dan komprehensif
(Depdiknas, 2000). Pada dasarnya untuk mengembangkan penguasaan konsep kimia
melalui praktikum yang baik, dibutuhkan keterampilan guru dalam memilih
pendekatan mengajar yang sesuai dengan karakteristik konsep. Guru harus mencari
hubungan konseptual antara pengetahuan siswa yang dipelajari di sekolah dengan
fenomena nyata yang terjadi di alam. Untuk mewujudkan hal ini hendaknya guru
senantiasa menstimulasi peran aktif siswa dalam menemukan konsep kimia.
Pemilihan metode pengajaran yang
tepat sangat menentukan di dalam peningkatan hasil belajar siswa. Metode
pengajaran akan mampu meningkatkan motivasi dan daya serap siswa terhadap mata
pelajaran yang disampaikan. Untuk menjadikan ilmu kimia sebagai ilmu yang
konkrit sekaligus dapat mengaktifkan indera seluruh siswa, maka metode yang
tepat dipakai adalah metode eksperimen. Laporan hasil penelitian Sholahuddin
(2001) menekankan bahwa pemberdayaan mata pelajaran IPA termasuk kimia dapat
dicapai jika proses belajar mengajar melibatkan metode eksperimen. Jadi, tidak
sekedar interaksi satu arah dan hafalan (rote learning) tetapi belajar
yang sesungguhnya (meaningfull learning).
Kenyataan yang ada, berdasarkan
hasil studi Wiyanto (2007) menunjukkan
bahwa pada umumnya pembelajaran Sains yang cenderung monoton dengan aktivitas
Sains termasuk rendah. Guru cenderung berceramah atau menjelaskan, siswa
mendengar dan mencatat, dan kegiatan laboratorium jarang dilakukan. Metode
eksperimen mempunyai peran dan fungsi yang amat penting dalam pembelajaran
materi kimia berkarakter praktikum, tetapi metode ini masih sangat jarang
dilakukan di SMA. Menurut Urip (2007) hal ini bisa disebabkan karena tidak
adanya guru kimia, tidak tersedianya laboratorium kimia di sekolah, tidak
tersedianya alat-alat dan bahan praktikum yang diperlukan, dan guru kimia yang
ada tidak mau membimbing praktikum.
Berdasarkan pengalaman penulis di
sekolah PPLT 2007 menunjukkan bahwa banyak alat-alat dan bahan kimia di
laboratorium SMA dalam kondisi rusak, menumpuk dan tidak terawat karena jarang
digunakan pada pembelajaran kimia. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian
Yandani (2006) menunjukkan bahwa pelaksanaan praktikum pada pengajaran kimia
SMA di kota Binjai belum optimal, yaitu sebanyak 12,5% responden (guru kimia)
menyatakan tidak pernah melaksanakan praktikum pada pengajaran kimia di sekolah
dan hanya 31,25% responden yang menguasai penggunaan seluruh alat-alat yang
tersedia pada laboratorium kimia. Beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan,
diantaranya: (1) Sarana dan prasarana laboratorium kimia di sekolah tidak
lengkap; (2) Mahalnya alat-alat dan bahan kimia sehingga tidak dapat dijangkau
oleh pihak sekolah; (3) Tidak dimilikinya tenaga laboran yang membantu guru
mempersiapkan pelaksanaan praktikum; (4) Terbatasnya alokasi waktu yang
tersedia mengingat banyaknya materi kimia yang harus diberikan kepada siswa
sesuai tuntutan kurikulum.
Menyikapi kondisi di atas,
laboratorium kimia sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal.
Kreativitas guru kimia dalam mengelola kegiatan laboratorium pada pengajaran
kimia belum menunjukkan pengajaran yang inovatif sehingga materi kimia yang
berkarakter praktikum diajarkan dengan metode konvensional. Sementara dalam
mata pelajaran kimia pencapaian kemampuan siswa seyogianya harus diukur atas
kemampuan teori dan praktek.
Metode alternatif dalam pengajaran
mata pelajaran kimia berkarakter praktikum di SMA adalah Pendekatan Starter
Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka (Depdiknas, 2000). Pendekatan
Starter Eksperimen ini dapat menjadi solusi dari keterbatasan waktu, fasilitas,
sarana dan prasarana laboratorium yang sering menjadi kendala bagi guru kimia
dalam melaksanakan kegiatan praktikum. Kelebihan Pendekatan Starter Eksperimen
adalah sebagai berikut: (1) Laboratorium tidak harus mutlak diperlukan dalam
pelaksanaan praktikum; (2) Keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium dapat
diatasi dengan membuat suatu rancangan praktikum sederhana di dalam kelas
dengan memakai bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dari lingkungan; (3)
Dapat menghemat biaya pembelian alat dan bahan-bahan kimia; (4) Alokasi waktu
singkat karena materi tidak diceramahkan lagi; (5) Dapat mengembangkan pola
berfikir, penguasaan konsep, keterampilan dan sikap siswa secara optimal.
Hasil penelitian Yasa (1999)
menunjukkan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Starter Eksperimen mampu
meningkatkan hasil belajar siswa, dimana rerata skor hasil belajar mencapai
7,20 (melebihi skor hasil belajar minimal, yaitu 6,5 ke atas) dengan ketuntasan
belajar mencapai 91% (melebihi syarat minimal, yaitu >75%). Di samping itu
penelitian Memes (2002) menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Starter
Eksperimen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau dari profil
pembelajaran yang lebih kondusif. Rerata hasil belajar melebihi skor standar
minimum (6,0) yaitu 7,37 dengan ketuntasan belajar 96,77% (melebihi syarat
minimal, yaitu >75%). Menurut Joseph (2007) TSSO-Ed (Technical Support
Services Officer for Education) telah mempublikasikan bahwa pemerintahan
Jerman sudah berhasil menemukan inovasi pengajaran program IPA melalui dari
pengalaman dan perkembangan terpenting selama guru menerapkan Pendekatan
Starter Eksperimen ini.
Belajar melalui praktek atau
mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan,
cara berfikir kritis dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan
saja (Sardiman, 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Sani (2003) bahwa
pembelajaran IPA yang dapat mengembangkan pola berpikir siswa harus dilakukan
dengan menggunakan eksperimen. Metode eksperimen (percobaan) adalah cara
penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan
membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek,
menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek,
keadaan ataupun proses sesuatu (Djamarah, 2002). Selanjutnya Arifin (2005)
menyatakan bahwa fungsi dari metode eksperimen merupakan penunjang kegiatan
proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang
prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Untuk mencapai tujuan
pembelajaran materi kimia yang berkarakter praktikum secara efektif dan
efesien, maka diperlukan suatu pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan
pendapat Winarti (2004) bahwa “pengajaran sains memerlukan pemberdayaan secara
optimal semua perangkat pembelajaran yang mendukung, diantaranya pemilihan
metode dan pendekatan yang tepat serta penggunaaan semaksimal mungkin semua
sumber belajar yang ada”. Depdiknas (2000) mengemukakan bahwa pendekatan yang
dianggap paling tepat dalam pembelajaran kimia adalah Pendekatan Starter
Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka. Dalam pendekatan ini siswa
dituntut lebih banyak aktif mencoba, atau diberikan peragaan, mencatat,
menyimpulkan, dan diberikan umpan balik pada saat itu juga dalam bentuk diskusi
aktif dalam kelompok maupun pleno di kelas. Materi pelajaran tidak perlu lagi
diceramahkan di kelas, mengingat siswa telah diberikan tugas baca di rumah
dengan bahan ajar yang lengkap.
Selanjutnya
Memes (2002) mengemukakan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen
bertujuan untuk memperbaiki aktivitas belajar mengajar dan dalam hal mata
pelajaran. Percobaan awal atau percobaan pembuka dapat menumbuhkembangkan minat
dan perhatian siswa terhadap topik yang akan dibahas. Pendekatan Starter
Eksperimen dianggap sebagai pendekatan yang revolusioner tanpa rencana dan
dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali dengan pengamatan lingkungan,
dilanjutkan dengan memisahkan langkah-langkah penting, bekerja dalam kelompok,
menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali peranan guru
sebagai stimulator dan organisator, pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman
serta memberikan motivasi kepada siswa.
Adapun tahapan-tahapan dalam
Pendekatan Starter Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum adalah
sebagai berikut:
a.
Siswa diminta mengamati peragaan yang
dilakukan oleh guru.
b.
Siswa mencatat hasil pengamatan dari
percobaan yang dilakukan oleh guru.
c.
Hasil pengamatan dikumpulkan untuk
evaluasi guru kimia.
d.
Percobaan diulang untuk pengamatan lebih
seksama dan lebih lengkap.
e.
Siswa menuliskan penjelasan bagi setiap
pengamatan yang ditemuinya.
f.
Percobaan pembuktian dilakukan dan
diperagakan oleh siswa untuk membenarkan penjelasan yang diajukannya.
g.
Siswa melaporkan hasil percobaan yang
dibuktikannya.
h.
Kesimpulan dituliskan dengan kaitan
antar konsep yang ada.
i.
Buku catatan percobaan untuk menilai
secara instan hasil belajar. (Depdiknas, 2000).
METODE
Populasi yang digunakan dalam
penelitian ini adalah seluruh kelas X MAS Al Washliyah-22 Tembung yang terdiri
dari 2 kelas dan masing-masing kelas sampel berjumlah 38 orang. Sedangkan
sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi, dimana kelas pertama
sebagai kelas eksperimen dan kelas kedua sebagai kelas kontrol. Desain
penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan rancangan test awal
dan test akhir dari kelas kontrol dan kelas eksperimen. Prosedur atau
langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:
a. Menentukan
populasi penelitian
b. Membentuk
dua kelompok sampel penelitian yang diambil secara purposif, kelompok pertama
sebagai kelas eksperimen dan kelompok kedua sebagai kelas kontrol.
c. Melaksanakan
test awal (pre test) pada kedua kelompok untuk mengetahui hasil belajar kimia
siswa sebelum diberikan perlakuan.
d. Memberi
perlakuan pengajaran pada kedua kelas, dimana pada kelas eksperimen diterapkan
kegiatan belajar mengajar melalui Pendekatan Starter Eksperimen dan pada kelas
kontrol diterapkan kegiatan belajar mengajar tanpa Pendekatan Starter
Eksperimen.
e. Melakukan
test akhir (post test) untuk mengetahui hasil belajar kimia siswa setelah
diberi perlakuan. Adapun test yang digunakan pada post test sama seperti pada
pre test.
f. Melakukan
uji statistik dan hipotesis serta mengambil kesimpulan.
HASIL
DAN PEMBAHASAN
Pada kelas eksperimen diterapkan
pembelajaran melalui Pendekatan Starter Eksperimen dengan nilai rata-rata post
test siswa adalah 70,39 dan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar
35,39. Sedangkan pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran tanpa Pendekatan
Starter Eksperimen dengan nilai rata-rata post test siswa adalah 67,76 dan
nilai rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar 30,92. Berdasarkan hasil
analisis data diperoleh bahwa harga thitung = 2,499. Sedangkan harga
ttabel = 1,668 pada taraf signifikansi 5% dan dk = 74, sehingga thitung
> ttabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan
hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter
Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit lebih
tinggi daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa
penerapan Pendekatan Starter Eksperimen.
Pengajaran melalui penerapan
Pendekatan Starter Eksperimen atau Percobaan Pembuka merupakan suatu
peragaan/percobaan yang dilakukan oleh guru pada awal pembelajaran dan siswa
dituntut untuk mengamati, mencatat, dan menyimpulkan hasil pengamatan serta
dapat melakukan peragaan/percobaan yang dirancang sendiri oleh siswa.
Pengajaran kimia seperti ini akan lebih berarti karena diperoleh siswa melalui
pengalaman nyata, sehingga siswa akan tertarik dan berusaha untuk memperhatikan
dan mengamati secermat mungkin tentang apa yang diperagakan oleh guru.
Di samping proses pengajaran yang
lebih menarik, melalui Pendekatan Starter Eksperimen pengajaran kimia akan
lebih jelas dan lebih konkrit, serta siswa akan terangsang untuk aktif
mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan; yaitu berupaya untuk
menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari. Dalam Pendekatan
Starter Eksperimen materi pelajaran tidak diceramahkan lagi di kelas karena
siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap.
Sebagai langkah awal siswa harus dimotivasi dan diupayakan agar mau mempelajari
sendiri di rumah sampai tuntas mengenai pokok bahasan larutan elektrolit dan
non elektrolit yang akan dipraktikumkan oleh guru pada pertemuan berikutnya.
Hal ini sangat membantu siswa dalam hal penguasaan konsep-konsep kimia sehingga
siswa sudah memiliki kemampuan awal (entry
behaviour) yang cukup sebelum melaksanakan pengamatan atau percobaan.
Dengan demikian, dapat
disimpulkan bahwa pengajaran kimia melalui Pendekatan Starter Eksperimen dapat
merangsang minat belajar dan perhatian siswa untuk memahami konsep-konsep kimia
serta informasi yang diperolehnya dapat bertahan lebih lama di dalam struktur
ingatan siswa. Sehingga pembelajaran melalui Pendekatan Starter Eksperimen ini
akan meningkatkan pola berpikir dan penguasaan konsep-konsep kimia yang
dipelajarinya menjadi lebih baik.
PENUTUP
Simpulan
Berdasarkan
hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai
berikut:
Peningkatan
hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter
Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit lebih tinggi
daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan
Pendekatan Starter Eksperimen. Nilai rata-rata peningkatan hasil belajar kimia
siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen sebesar
35,39. Sedangkan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar kimia siswa yang
diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen sebesar 30,92.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang
diperoleh, maka saran yang dapat dikemukakan adalah:
1. Guru
kimia sebaiknya menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen pada materi kimia
berkarakter praktikum sebagai salah satu metode alternatif untuk meningkatkan
hasil belajar siswa.
2. Bagi
peneliti selanjutnya yang ingin meneliti topik dan permasalahan yang sama,
hendaknya lebih memperhatikan jangkauan materi praktikum, sekolah dan sampel
yang lebih luas, sehingga Pendekatan Starter Eksperimen sebagai salah satu
metode alternatif dapat diterapkan di sekolah, agar diperoleh peningkatan dalam
proses dan hasil belajar mengajar kimia yang lebih baik.
DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M., Sudja, W.A., Ismail, A.K., Mulyono.,
Wahyu, W., (2005), Strategi Belajar Mengajar Kimia, UNM, Malang.
Depdiknas,
(2000), Metode Alternatif Belajar/Mengajar IPA, Dikmenum, Jakarta.
_________, (2003), Kurikulum 2004, Standar Kompetensi
Mata Pelajaran Kimia SMA dan MA, Jakarta.
Djamarah,
S.B., dan Zain, A., (2002), Strategi Belajar Mengajar, Penerbit Rineka
Cipta, Jakarta.
Joseph,
G., (2007), CSSC Produces Science Teaching Manuals, http://www. Interchurch.org/resources/uploads/file
Memes,
W., (2002), Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Metode Alternatif Model
Pembelajaran IPA Yang Berwawasan Sains dan Teknologi Untuk Mensukseskan
Pendidikan Dasar, Jurnal MIPA 31: 52-56.
Sani,
R.A., (2003), Perlunya Eksperimen Dalam Pembelajaran IPA, Pelangi Pendidikan
10 (2): 108-111.
Sardiman,
A.M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT Raja Grafindo
Persada, Jakarta.
Sholahuddin,
A., (2001), Pemberdayaan Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya Menumbuhkembangkan
Sikap Positif Terhadap Lingkungan, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 032:
618.
Situmorang,
M., Purba, J., dan Tambunan, M., (2000), Efektifitas Media Peta Konsep Dalam
Pengajaran Kimia Konsep Mol di Sekolah Menengah Umum, Pelangi Pendidikan
7(1): 29.
Urip.,(2007),
Mengajar Kimia Tanpa Eksperimen, http://urip.wordpress.
Winarti,
A., dan Irhasyuarna, Y., (2004), Optimalisasi Peran Laboratorium Sebagai Upaya
Menyiapkan Pembelajaran Kimia di SMU Dalam Menghadapi Abad Ke-21, Jurnal
Pendidikan dan Kebudayaan, Ed. 2004: 155.
Wiyanto.,
Sopyan, A., Nugroho., dan Wibowo, S.W., (2007), Potret Pembelajaran Sains di
SMP dan SMA, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha 2: 386.
Yandani,
R., (2006), Analisis Kesulitan Guru Kimia Dalam Pelaksanaan Praktikum KBK Pada
Pengajaran Kimia se-Kota Binjai, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.
Yasa,
P., (1999), Pembelajaran Fisika Berwawasan Teknologi Masyarakat Dengan Pendekatan
Starter Eksperimen Sebagai Upaya Penyempurnaan Pembelajaran Menuju Literasi
Sains pada SLTP Negeri di Singaraja, Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja 2:
61-62.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar