Selasa, 14 April 2015

ARTIKEL KIMIA


PENERAPAN PENDEKATAN STARTER EKSPERIMEN PADA PEMBELAJARAN KIMIA

Afrizen, S.Pd

Guru Kimia SMK Negeri 2 Binjai

ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen. Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X MAS Al Washliyah-22 Tembung yang terdiri dari 2 kelas dan masing-masing kelas sampel berjumlah 38 orang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi, dimana kelas pertama sebagai kelas eksperimen dan kelas kedua sebagai kelas kontrol. Pada kelas eksperimen diterapkan pembelajaran melalui Pendekatan Starter Eksperimen dengan nilai rata-rata post test siswa adalah 70,39 dan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar 35,39. Sedangkan pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran tanpa Pendekatan Starter Eksperimen dengan nilai rata-rata post test siswa adalah 67,76 dan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar 30,92. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa harga thitung = 2,499. Sedangkan harga ttabel = 1,668 pada taraf signifikansi 5% dan dk = 74, sehingga thitung > ttabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen. 
Kata Kunci: kimia, pendekatan starter eksperimen, hasil belajar.
PENDAHULUAN


Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh guru-guru kimia di sekolah menengah adalah kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyajian materi yang kurang menarik dan membosankan, sehingga terkesan ”angker”, sulit, dan menakutkan bagi siswa Sekolah  Menengah Umum (SMU), dan akhirnya banyak siswa SMU yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Sakkashiri dalam Situmorang, 2000).
Ilmu kimia merupakan ilmu yang diperoleh dan dikembangkan berdasarkan eksperimen yang mencari jawaban atas pertanyaan apa, mengapa, dan bagaimana gejala-gejala alam; khususnya yang berkaitan dengan komposisi, struktur, dan sifat transformasi, dinamika dan energetika zat. Oleh sebab itu, mata pelajaran kimia di SMA harus melibatkan keterampilan dan penalaran. Di samping itu, fungsi dan tujuan pembelajaran kimia di SMA salah satunya adalah memperoleh pengalaman dalam menerapkan metode ilmiah melalui eksperimen, dimana siswa melakukan pengujian hipotesis dengan merancang eksperimen melalui pemasangan instrument, pengambilan, pengolahan dan interpretasi data, serta mengkomunikasikan hasil eksperimen secara lisan dan tertulis (Depdiknas, 2003). Salah satu karakteristik pengajaran mata pelajaran kimia di SMA yang teramat penting untuk ditekankan pada guru kimia adalah pembelajaran kimia harus lucu dan menarik. Hal ini akan membangkitkan motivasi belajar serta pembelajaran seumur hidup. Kimia akan menjadi “student friendly” bila pengajarannya lebih fungsional/aplikatif, ilustratif dan komprehensif (Depdiknas, 2000). Pada dasarnya untuk mengembangkan penguasaan konsep kimia melalui praktikum yang baik, dibutuhkan keterampilan guru dalam memilih pendekatan mengajar yang sesuai dengan karakteristik konsep. Guru harus mencari hubungan konseptual antara pengetahuan siswa yang dipelajari di sekolah dengan fenomena nyata yang terjadi di alam. Untuk mewujudkan hal ini hendaknya guru senantiasa menstimulasi peran aktif siswa dalam menemukan konsep kimia.
Pemilihan metode pengajaran yang tepat sangat menentukan di dalam peningkatan hasil belajar siswa. Metode pengajaran akan mampu meningkatkan motivasi dan daya serap siswa terhadap mata pelajaran yang disampaikan. Untuk menjadikan ilmu kimia sebagai ilmu yang konkrit sekaligus dapat mengaktifkan indera seluruh siswa, maka metode yang tepat dipakai adalah metode eksperimen. Laporan hasil penelitian Sholahuddin (2001) menekankan bahwa pemberdayaan mata pelajaran IPA termasuk kimia dapat dicapai jika proses belajar mengajar melibatkan metode eksperimen. Jadi, tidak sekedar interaksi satu arah dan hafalan (rote learning) tetapi belajar yang sesungguhnya (meaningfull learning).
Kenyataan yang ada, berdasarkan hasil studi Wiyanto (2007)  menunjukkan bahwa pada umumnya pembelajaran Sains yang cenderung monoton dengan aktivitas Sains termasuk rendah. Guru cenderung berceramah atau menjelaskan, siswa mendengar dan mencatat, dan kegiatan laboratorium jarang dilakukan. Metode eksperimen mempunyai peran dan fungsi yang amat penting dalam pembelajaran materi kimia berkarakter praktikum, tetapi metode ini masih sangat jarang dilakukan di SMA. Menurut Urip (2007) hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya guru kimia, tidak tersedianya laboratorium kimia di sekolah, tidak tersedianya alat-alat dan bahan praktikum yang diperlukan, dan guru kimia yang ada tidak mau membimbing praktikum. 
Berdasarkan pengalaman penulis di sekolah PPLT 2007 menunjukkan bahwa banyak alat-alat dan bahan kimia di laboratorium SMA dalam kondisi rusak, menumpuk dan tidak terawat karena jarang digunakan pada pembelajaran kimia. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Yandani (2006) menunjukkan bahwa pelaksanaan praktikum pada pengajaran kimia SMA di kota Binjai belum optimal, yaitu sebanyak 12,5% responden (guru kimia) menyatakan tidak pernah melaksanakan praktikum pada pengajaran kimia di sekolah dan hanya 31,25% responden yang menguasai penggunaan seluruh alat-alat yang tersedia pada laboratorium kimia. Beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan, diantaranya: (1) Sarana dan prasarana laboratorium kimia di sekolah tidak lengkap; (2) Mahalnya alat-alat dan bahan kimia sehingga tidak dapat dijangkau oleh pihak sekolah; (3) Tidak dimilikinya tenaga laboran yang membantu guru mempersiapkan pelaksanaan praktikum; (4) Terbatasnya alokasi waktu yang tersedia mengingat banyaknya materi kimia yang harus diberikan kepada siswa sesuai tuntutan kurikulum.
Menyikapi kondisi di atas, laboratorium kimia sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal. Kreativitas guru kimia dalam mengelola kegiatan laboratorium pada pengajaran kimia belum menunjukkan pengajaran yang inovatif sehingga materi kimia yang berkarakter praktikum diajarkan dengan metode konvensional. Sementara dalam mata pelajaran kimia pencapaian kemampuan siswa seyogianya harus diukur atas kemampuan teori dan praktek.
Metode alternatif dalam pengajaran mata pelajaran kimia berkarakter praktikum di SMA adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka (Depdiknas, 2000). Pendekatan Starter Eksperimen ini dapat menjadi solusi dari keterbatasan waktu, fasilitas, sarana dan prasarana laboratorium yang sering menjadi kendala bagi guru kimia dalam melaksanakan kegiatan praktikum. Kelebihan Pendekatan Starter Eksperimen adalah sebagai berikut: (1) Laboratorium tidak harus mutlak diperlukan dalam pelaksanaan praktikum; (2) Keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium dapat diatasi dengan membuat suatu rancangan praktikum sederhana di dalam kelas dengan memakai bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dari lingkungan; (3) Dapat menghemat biaya pembelian alat dan bahan-bahan kimia; (4) Alokasi waktu singkat karena materi tidak diceramahkan lagi; (5) Dapat mengembangkan pola berfikir, penguasaan konsep, keterampilan dan sikap siswa secara optimal.
Hasil penelitian Yasa (1999) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Starter Eksperimen mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dimana rerata skor hasil belajar mencapai 7,20 (melebihi skor hasil belajar minimal, yaitu 6,5 ke atas) dengan ketuntasan belajar mencapai 91% (melebihi syarat minimal, yaitu >75%). Di samping itu penelitian Memes (2002) menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau dari profil pembelajaran yang lebih kondusif. Rerata hasil belajar melebihi skor standar minimum (6,0) yaitu 7,37 dengan ketuntasan belajar 96,77% (melebihi syarat minimal, yaitu >75%). Menurut Joseph (2007) TSSO-Ed (Technical Support Services Officer for Education) telah mempublikasikan bahwa pemerintahan Jerman sudah berhasil menemukan inovasi pengajaran program IPA melalui dari pengalaman dan perkembangan terpenting selama guru menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen ini.
Belajar melalui praktek atau mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berfikir kritis dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja (Sardiman, 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Sani (2003) bahwa pembelajaran IPA yang dapat mengembangkan pola berpikir siswa harus dilakukan dengan menggunakan eksperimen. Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan ataupun proses sesuatu (Djamarah, 2002). Selanjutnya Arifin (2005) menyatakan bahwa fungsi dari metode eksperimen merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran materi kimia yang berkarakter praktikum secara efektif dan efesien, maka diperlukan suatu pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarti (2004) bahwa “pengajaran sains memerlukan pemberdayaan secara optimal semua perangkat pembelajaran yang mendukung, diantaranya pemilihan metode dan pendekatan yang tepat serta penggunaaan semaksimal mungkin semua sumber belajar yang ada”. Depdiknas (2000) mengemukakan bahwa pendekatan yang dianggap paling tepat dalam pembelajaran kimia adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka. Dalam pendekatan ini siswa dituntut lebih banyak aktif mencoba, atau diberikan peragaan, mencatat, menyimpulkan, dan diberikan umpan balik pada saat itu juga dalam bentuk diskusi aktif dalam kelompok maupun pleno di kelas. Materi pelajaran tidak perlu lagi diceramahkan di kelas, mengingat siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap.
                Selanjutnya Memes (2002) mengemukakan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen bertujuan untuk memperbaiki aktivitas belajar mengajar dan dalam hal mata pelajaran. Percobaan awal atau percobaan pembuka dapat menumbuhkembangkan minat dan perhatian siswa terhadap topik yang akan dibahas. Pendekatan Starter Eksperimen dianggap sebagai pendekatan yang revolusioner tanpa rencana dan dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali dengan pengamatan lingkungan, dilanjutkan dengan memisahkan langkah-langkah penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali peranan guru sebagai stimulator dan organisator, pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi kepada siswa.
Adapun tahapan-tahapan dalam Pendekatan Starter Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum adalah sebagai berikut:
a.     Siswa diminta mengamati peragaan yang dilakukan oleh guru.
b.     Siswa mencatat hasil pengamatan dari percobaan yang dilakukan oleh guru.
c.     Hasil pengamatan dikumpulkan untuk evaluasi guru kimia.
d.     Percobaan diulang untuk pengamatan lebih seksama dan lebih lengkap.
e.     Siswa menuliskan penjelasan bagi setiap pengamatan yang ditemuinya.
f.      Percobaan pembuktian dilakukan dan diperagakan oleh siswa untuk membenarkan penjelasan yang diajukannya.
g.     Siswa melaporkan hasil percobaan yang dibuktikannya.
h.     Kesimpulan dituliskan dengan kaitan antar konsep yang ada.
i.       Buku catatan percobaan untuk menilai secara instan hasil belajar. (Depdiknas, 2000).
               


METODE
Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah seluruh kelas X MAS Al Washliyah-22 Tembung yang terdiri dari 2 kelas dan masing-masing kelas sampel berjumlah 38 orang. Sedangkan sampel dalam penelitian ini adalah sampel populasi, dimana kelas pertama sebagai kelas eksperimen dan kelas kedua sebagai kelas kontrol. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini merupakan rancangan test awal dan test akhir dari kelas kontrol dan kelas eksperimen. Prosedur atau langkah-langkah penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.     Menentukan populasi penelitian
b.     Membentuk dua kelompok sampel penelitian yang diambil secara purposif, kelompok pertama sebagai kelas eksperimen dan kelompok kedua sebagai kelas kontrol.
c.     Melaksanakan test awal (pre test) pada kedua kelompok untuk mengetahui hasil belajar kimia siswa sebelum diberikan perlakuan.
d.     Memberi perlakuan pengajaran pada kedua kelas, dimana pada kelas eksperimen diterapkan kegiatan belajar mengajar melalui Pendekatan Starter Eksperimen dan pada kelas kontrol diterapkan kegiatan belajar mengajar tanpa Pendekatan Starter Eksperimen.
e.     Melakukan test akhir (post test) untuk mengetahui hasil belajar kimia siswa setelah diberi perlakuan. Adapun test yang digunakan pada post test sama seperti pada pre test.
f.      Melakukan uji statistik dan hipotesis serta mengambil kesimpulan.

HASIL DAN PEMBAHASAN
Pada kelas eksperimen diterapkan pembelajaran melalui Pendekatan Starter Eksperimen dengan nilai rata-rata post test siswa adalah 70,39 dan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar 35,39. Sedangkan pada kelas kontrol diterapkan pembelajaran tanpa Pendekatan Starter Eksperimen dengan nilai rata-rata post test siswa adalah 67,76 dan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar sebesar 30,92. Berdasarkan hasil analisis data diperoleh bahwa harga thitung = 2,499. Sedangkan harga ttabel = 1,668 pada taraf signifikansi 5% dan dk = 74, sehingga thitung > ttabel. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen.
Pengajaran melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen atau Percobaan Pembuka merupakan suatu peragaan/percobaan yang dilakukan oleh guru pada awal pembelajaran dan siswa dituntut untuk mengamati, mencatat, dan menyimpulkan hasil pengamatan serta dapat melakukan peragaan/percobaan yang dirancang sendiri oleh siswa. Pengajaran kimia seperti ini akan lebih berarti karena diperoleh siswa melalui pengalaman nyata, sehingga siswa akan tertarik dan berusaha untuk memperhatikan dan mengamati secermat mungkin tentang apa yang diperagakan oleh guru.
Di samping proses pengajaran yang lebih menarik, melalui Pendekatan Starter Eksperimen pengajaran kimia akan lebih jelas dan lebih konkrit, serta siswa akan terangsang untuk aktif mengamati, menyesuaikan antara teori dengan kenyataan; yaitu berupaya untuk menemukan pembuktian kebenaran dari teori yang dipelajari. Dalam Pendekatan Starter Eksperimen materi pelajaran tidak diceramahkan lagi di kelas karena siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap. Sebagai langkah awal siswa harus dimotivasi dan diupayakan agar mau mempelajari sendiri di rumah sampai tuntas mengenai pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit yang akan dipraktikumkan oleh guru pada pertemuan berikutnya. Hal ini sangat membantu siswa dalam hal penguasaan konsep-konsep kimia sehingga siswa sudah memiliki kemampuan awal (entry behaviour) yang cukup sebelum melaksanakan pengamatan atau percobaan.
Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa pengajaran kimia melalui Pendekatan Starter Eksperimen dapat merangsang minat belajar dan perhatian siswa untuk memahami konsep-konsep kimia serta informasi yang diperolehnya dapat bertahan lebih lama di dalam struktur ingatan siswa. Sehingga pembelajaran melalui Pendekatan Starter Eksperimen ini akan meningkatkan pola berpikir dan penguasaan konsep-konsep kimia yang dipelajarinya menjadi lebih baik.


PENUTUP
Simpulan
                Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut:
Peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen pada pokok bahasan larutan elektrolit dan non elektrolit lebih tinggi daripada peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen. Nilai rata-rata peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar melalui penerapan Pendekatan Starter Eksperimen sebesar 35,39. Sedangkan nilai rata-rata peningkatan hasil belajar kimia siswa yang diajar tanpa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen sebesar 30,92.
Saran
Berdasarkan hasil penelitian yang diperoleh, maka saran yang dapat dikemukakan adalah:
1.     Guru kimia sebaiknya menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum sebagai salah satu metode alternatif untuk meningkatkan hasil belajar siswa.
2.     Bagi peneliti selanjutnya yang ingin meneliti topik dan permasalahan yang sama, hendaknya lebih memperhatikan jangkauan materi praktikum, sekolah dan sampel yang lebih luas, sehingga Pendekatan Starter Eksperimen sebagai salah satu metode alternatif dapat diterapkan di sekolah, agar diperoleh peningkatan dalam proses dan hasil belajar mengajar kimia yang lebih baik.

DAFTAR PUSTAKA
Arifin, M., Sudja, W.A., Ismail, A.K., Mulyono., Wahyu, W., (2005), Strategi Belajar Mengajar Kimia, UNM, Malang.
Depdiknas, (2000), Metode Alternatif Belajar/Mengajar IPA, Dikmenum, Jakarta.
_________, (2003), Kurikulum 2004, Standar Kompetensi Mata Pelajaran Kimia SMA dan MA, Jakarta.
Djamarah, S.B., dan Zain, A., (2002), Strategi Belajar Mengajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Joseph, G., (2007), CSSC Produces Science Teaching Manuals, http://www. Interchurch.org/resources/uploads/file
Memes, W., (2002), Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Metode Alternatif Model Pembelajaran IPA Yang Berwawasan Sains dan Teknologi Untuk Mensukseskan Pendidikan Dasar, Jurnal MIPA 31: 52-56.
Sani, R.A., (2003), Perlunya Eksperimen Dalam Pembelajaran IPA, Pelangi Pendidikan 10 (2): 108-111.
Sardiman, A.M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.
Sholahuddin, A., (2001), Pemberdayaan Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya Menumbuhkembangkan Sikap Positif Terhadap Lingkungan, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 032: 618.
Situmorang, M., Purba, J., dan Tambunan, M., (2000), Efektifitas Media Peta Konsep Dalam Pengajaran Kimia Konsep Mol di Sekolah Menengah Umum, Pelangi Pendidikan 7(1): 29.
Urip.,(2007), Mengajar Kimia Tanpa Eksperimen, http://urip.wordpress.
Winarti, A., dan Irhasyuarna, Y., (2004), Optimalisasi Peran Laboratorium Sebagai Upaya Menyiapkan Pembelajaran Kimia di SMU Dalam Menghadapi Abad Ke-21, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Ed. 2004: 155.
Wiyanto., Sopyan, A., Nugroho., dan Wibowo, S.W., (2007), Potret Pembelajaran Sains di SMP dan SMA, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha 2: 386.
Yandani, R., (2006), Analisis Kesulitan Guru Kimia Dalam Pelaksanaan Praktikum KBK Pada Pengajaran Kimia se-Kota Binjai, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.
Yasa, P., (1999), Pembelajaran Fisika Berwawasan Teknologi Masyarakat Dengan Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Upaya Penyempurnaan Pembelajaran Menuju Literasi Sains pada SLTP Negeri di Singaraja, Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja 2: 61-62.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar