PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KIMIA DALAM PRAKTIKUM MELALUI
PENDEKATAN STARTER EKSPERIMEN DI SMK NEGERI 2 BINJAI
Oleh: Afrizen, S.Pd
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh
guru-guru kimia di sekolah menengah adalah kebanyakan siswa menganggap mata
pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa sudah
terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin
disebabkan oleh penyajian materi yang kurang menarik dan membosankan, sehingga
terkesan ”angker”, sulit, dan menakutkan bagi siswa Sekolah Menengah Umum (SMU), dan akhirnya banyak
siswa SMU yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Sakkashiri dalam
Situmorang, 2000).
Berdasarkan pengalaman penulis di sekolah PPLT 2007
menunjukkan bahwa banyak alat-alat dan bahan kimia di laboratorium SMA dalam
kondisi rusak, menumpuk dan tidak terawat karena jarang digunakan pada pembelajaran
kimia. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Yandani (2006) menunjukkan bahwa
pelaksanaan praktikum pada pengajaran kimia SMA di kota Binjai belum optimal,
yaitu sebanyak 12,5% responden (guru kimia) menyatakan tidak pernah
melaksanakan praktikum pada pengajaran kimia di sekolah dan hanya 31,25%
responden yang menguasai penggunaan seluruh alat-alat yang tersedia pada
laboratorium kimia. Artinya,
kemampuan guru kimia masih rendah dalam melaksanakan praktikum di sekolah.
Beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan,
diantaranya: (1) Sarana dan prasarana laboratorium kimia di sekolah tidak
lengkap; (2) Mahalnya alat-alat dan bahan kimia sehingga tidak dapat dijangkau
oleh pihak sekolah; (3) Tidak dimilikinya tenaga laboran yang membantu guru
mempersiapkan pelaksanaan praktikum; (4) Terbatasnya alokasi waktu yang
tersedia mengingat banyaknya materi kimia yang harus diberikan kepada siswa
sesuai tuntutan kurikulum. Sehingga
materi kimia yang seharusnya dipraktikumkan, hanya diajarkan secara teori.
Kenyataan yang ada, berdasarkan hasil studi Wiyanto
(2007) menunjukkan bahwa pada umumnya
pembelajaran Sains yang cenderung monoton dengan aktivitas Sains termasuk
rendah. Guru cenderung berceramah atau menjelaskan, siswa mendengar dan
mencatat, dan kegiatan laboratorium jarang dilakukan. Metode eksperimen
mempunyai peran dan fungsi yang amat penting dalam pembelajaran materi kimia
berkarakter praktikum, tetapi metode ini masih sangat jarang dilakukan di SMA.
Menurut Urip (2007) hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya guru kimia,
tidak tersedianya laboratorium kimia di sekolah, tidak tersedianya alat-alat
dan bahan praktikum yang diperlukan, dan guru kimia yang ada tidak mau
membimbing praktikum.
B.
Identifikasi Pemecahan Masalah
Permasalahan
rendahnya kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum di sekolah
berpangkal dari kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan metode atau
pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran kimia. Disamping itu laboratorium
kimia sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal. Kreativitas
guru kimia dalam mengelola kegiatan laboratorium pada pengajaran kimia belum
menunjukkan pengajaran yang inovatif sehingga materi kimia yang berkarakter
praktikum diajarkan dengan metode konvensional. Sementara dalam mata pelajaran
kimia pencapaian kemampuan siswa seyogianya harus diukur atas kemampuan teori
dan praktek.
Pemilihan metode pengajaran yang tepat sangat
menentukan di dalam peningkatan hasil belajar siswa. Metode pengajaran akan
mampu meningkatkan motivasi dan daya serap siswa terhadap mata pelajaran yang
disampaikan. Untuk menjadikan ilmu kimia sebagai ilmu yang konkrit sekaligus
dapat mengaktifkan indera seluruh siswa, maka metode yang tepat dipakai adalah
metode eksperimen. Laporan hasil penelitian Sholahuddin (2001) menekankan bahwa
pemberdayaan mata pelajaran IPA termasuk kimia dapat dicapai jika proses
belajar mengajar melibatkan metode eksperimen. Jadi, tidak sekedar interaksi
satu arah dan hafalan (rote learning) tetapi belajar yang sesungguhnya (meaningfull
learning).
Metode alternatif dalam pengajaran mata pelajaran
kimia berkarakter praktikum di SMA adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau
Pendekatan Percobaan Pembuka (Depdiknas, 2000). Pendekatan Starter Eksperimen
ini dapat menjadi solusi dari keterbatasan waktu, fasilitas, sarana dan
prasarana laboratorium yang sering menjadi kendala bagi guru kimia dalam
melaksanakan kegiatan praktikum. Kelebihan Pendekatan Starter Eksperimen adalah
sebagai berikut: (1) Laboratorium tidak harus mutlak diperlukan dalam pelaksanaan
praktikum; (2) Keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium dapat diatasi
dengan membuat suatu rancangan praktikum sederhana di dalam kelas dengan
memakai bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dari lingkungan; (3) Dapat
menghemat biaya pembelian alat dan bahan-bahan kimia; (4) Alokasi waktu singkat
karena materi tidak diceramahkan lagi; (5) Dapat mengembangkan pola berfikir,
penguasaan konsep, keterampilan dan sikap siswa secara optimal.
Hasil penelitian Yasa (1999) menunjukkan bahwa
pembelajaran dengan Pendekatan Starter Eksperimen mampu meningkatkan hasil
belajar siswa, dimana rerata skor hasil belajar mencapai 7,20 (melebihi skor
hasil belajar minimal, yaitu 6,5 ke atas) dengan ketuntasan belajar mencapai
91%. Di samping itu penelitian Memes (2002) menunjukkan bahwa penerapan
Pendekatan Starter Eksperimen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau
dari profil pembelajaran yang lebih kondusif. Rerata hasil belajar melebihi
skor standar minimum (6,0) yaitu 7,37 dengan ketuntasan belajar 96,77%. Menurut
Joseph (2007) TSSO-Ed (Technical Support Services Officer for Education)
telah mempublikasikan bahwa pemerintahan Jerman sudah berhasil menemukan
inovasi pengajaran program IPA melalui dari pengalaman dan perkembangan
terpenting selama guru menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen ini.
C.
Penetapan Focus Area
Berdasarkan
latar belakang dan identifikasi pemecahan masalah, maka dirumuskan fokus area
penelitian:
Upaya peningkatan kemampuan
guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen
D.
Perumusan Masalah
1. Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia
dalam menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2. Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia
dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
E.
Tujuan Penelitian
PTS yang dilakukan di SMK
Negeri 2 Binjai ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam
menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2. Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam
melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter
Eksperimen.
F.
Manfaat Penelitian
Apabila
tujuan tersebut di atas dapat tercapai, maka hasil penelitian akan bermanfaat,
terutama:
1.
Bagi Pengawas, meningkatnya profesionalisme pengawas dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya, khususnya dalam hal upaya peningkatan
profesionalisme guru binaannya.
2.
Bagi
Guru, sebagai informasi dan stimulan
untuk mengembangkan kemampuan dalam menerapkan pendekatan Starter Eksperimen
sebagai pembelajaran yang inovatif.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Deskripsi Teori
1.
Kemampuan Guru
Menurut Usman (2005) kompetensi
adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik
yang kualitatif maupun kuantitatif. Pengertian ini mengandung bahwa kompetensi
itu dapat digunakan dala dua konteks, yakni: pertama,
sebagai indkator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati. Kedua, sebagai konsep yang mencakup
aspek-aspek kognitif,
efektif, dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanannya secara utuh. Sedangkan
Roestiyah (1989) mengartikan
kompetensi seperti yang dikutipnya dari pendapat W. Robert Houston sebagai
“suatu tugas memamdai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
yang dituntut oleh jabatan tertentu.
Kompetensi juga dapat diartikan
sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang
yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan
perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya
(Mulyasa, 2003).
Menurut Sagala (2008: 29) kompetensi
adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan
latihan. Dengan demikian, istilah kompetensi sangat kontekstual dan tidak universal
untuk semua jenis pekerjaan. Setiap jenis pekerjaan memerlukan porsi yang
berbeda-beda antara pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya. Pekerjaan-pekerjaan
berkerah putih, pengetahuan lebih besar porsinya daripada sikap dan
keterampilan, dan pekerjaan berkerah biru memerlukan porsi keterampilan fisik
lebih besar daripada pengetahuan dan sikap.
Guru adalah pendidik professional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
menevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesi guru merupakan
bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:
(1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealism; (2) memiliki komitmen
untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3)
memiliki kualifikasi akademik ddan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan
bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang
tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas tugas keprofesionalan; (6) memperoleh
penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki
kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hokum dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan; (9) memiliki organisasi profesi yang
mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas
keprofesionalan guru (Kunandar,
2007).
2.
Pendekatan Starter Eksperimen
Belajar melalui praktek atau mengalami secara langsung
akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berfikir kritis dan
lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja (Sardiman, 2006). Hal
ini sejalan dengan pendapat Sani (2003) bahwa pembelajaran IPA yang dapat
mengembangkan pola berpikir siswa harus dilakukan dengan menggunakan
eksperimen. Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran,
dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri,
mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan
menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan ataupun proses sesuatu
(Djamarah, 2002). Selanjutnya Arifin (2005) menyatakan bahwa fungsi dari metode
eksperimen merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip
tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran materi kimia yang
berkarakter praktikum secara efektif dan efesien, maka diperlukan suatu
pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarti (2004) bahwa
“pengajaran sains memerlukan pemberdayaan secara optimal semua perangkat
pembelajaran yang mendukung, diantaranya pemilihan metode dan pendekatan yang
tepat serta penggunaaan semaksimal mungkin semua sumber belajar yang ada”.
Depdiknas (2000) mengemukakan bahwa pendekatan yang dianggap paling tepat dalam
pembelajaran kimia adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan
Percobaan Pembuka. Dalam pendekatan ini siswa dituntut lebih banyak aktif
mencoba, atau diberikan peragaan, mencatat, menyimpulkan, dan diberikan umpan
balik pada saat itu juga dalam bentuk diskusi aktif dalam kelompok maupun pleno
di kelas. Materi pelajaran tidak perlu lagi diceramahkan di kelas, mengingat
siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap.
Selanjutnya Memes (2002) mengemukakan bahwa penerapan
Pendekatan Starter Eksperimen bertujuan untuk memperbaiki aktivitas belajar
mengajar dan dalam hal mata pelajaran. Percobaan awal atau percobaan pembuka
dapat menumbuhkembangkan minat dan perhatian siswa terhadap topik yang akan
dibahas. Pendekatan Starter Eksperimen dianggap sebagai pendekatan yang
revolusioner tanpa rencana dan dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali dengan
pengamatan lingkungan, dilanjutkan dengan memisahkan langkah-langkah penting,
bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan
kembali peranan guru sebagai stimulator dan organisator, pengetahuan ingatan
menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi kepada siswa.
Dalam Pendekatan Starter Eksperimen yang diusulkan,
keaktifan maupun mutu penguasaan siswa dalam kegiatan belajar langsung
kelihatan dari kinerjanya selama percobaan ataupun selama kegiatan
berdiskusi. Dengan demikian guru dapat
menilai siswa secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain
dengan cara memberikan ulangan harian, kesempatan tanya jawab dan diskusi
sebelum, selama maupun sesudah kegiatan belajar mengajar dapat menjadi petunjuk
yang baik bagi guru untuk menilai masing-masing siswa secara individual.
Keluaran (output) yang diharapkan dengan
diterapkannya Pendekatan Starter Eksperimen harus lebih menekankan pada
penyelesaian persoalan kompleks (terpadu) secara kreatif. Melalui observasi
langsung maka kemampuan kognitif, keterampilan maupun afektif siswa dapat
langsung dievaluasi. Beberapa aspek komprehensif siswa yang tidak dapat
dimunculkan selama kegiatan belajar dapat dievaluasi dengan sistem ulangan/tes.
Pada pendekatan ini siswa diharapkan banyak melakukan
pengamatan, kemudian seketika dibenarkan bila pengamatan menyimpang jauh dari
sasaran. Setelah mengamati kemudian disusul dengan pembuktian yang telah
dirancangnya, siswa kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Pengamatan
maupun percobaan dilakukan oleh siswa secara berkelompok dengan jumlah siswa
maksimum 5 orang. Observasi langsung dilakukan secara interaktif terhadap
peragaan yang dilakukan oleh guru. Objek observasi sedapat mungkin adalah
benda-benda yang ada di lingkungan hidup sehari-hari dan peralatan serta bahan-bahan
kimia yang mudah diperoleh dan dijangkau.
Adapun tahapan-tahapan dalam Pendekatan Starter
Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum adalah sebagai berikut:
a.
Siswa diminta mengamati peragaan yang dilakukan oleh
guru.
b.
Siswa mencatat hasil pengamatan dari percobaan yang
dilakukan oleh guru.
c.
Hasil pengamatan dikumpulkan untuk evaluasi guru kimia.
d.
Percobaan diulang untuk pengamatan lebih seksama dan
lebih lengkap.
e.
Siswa menuliskan penjelasan bagi setiap pengamatan yang
ditemuinya.
f.
Percobaan pembuktian dilakukan dan diperagakan oleh
siswa untuk membenarkan penjelasan yang diajukannya.
g.
Siswa melaporkan hasil percobaan yang dibuktikannya.
h.
Kesimpulan dituliskan dengan kaitan antar konsep yang
ada.
i.
Buku catatan percobaan untuk menilai secara instan hasil
belajar. (Depdiknas, 2000).
B.
Kerangka Berpikir
Dari kajian teori di atas dapat diduga bahwa:
1.
Peningkatan
kemampuan guru kimia dalam mengguanakan alat dan bahan praktikum dapat
dilakukan dengan menerapkan pendekatan Starter
Eksperimen.
2.
Pendekatan Starter
Eksperimen dapat merangsang minat belajar dan perhatian guru untuk memahami konsep-konsep kimia
serta informasi yang diperolehnya dapat bertahan lebih lama di dalam struktur
ingatan, yang diawali dengan pengamatan
lingkungan, memisahkan langkah-langkah
penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep,
mendefinisikan kembali, pengetahuan
ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi.
C.
Hipotesis Penelitian (Tindakan)
1.
Kemampuan
guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum dapat ditingkatkan
melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.
Kemampuan
guru kimia dalam melaksanakan praktikum dapat ditingkatkan melalui pendekatan Starter Eksperimen.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan
sekolah ini akan dilaksanakan
di SMK Negeri 2 Kota Binjai.
Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu pada
bulan Januari sampai dengan Maret 2015, mulai dari tahap perencanaan sampai
dengan pelaporan.
B.
Subyek Penelitian
Subjek
dalam penelitian ini adalah tiga orang guru mata pelajaran kimia di SMK Negeri
2 Binjai dan satu orang pengawas dinas pendidikan Kota Binjai.
Subjek ditentukan dengan cara purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu (Sugiyono, 2008:85) yakni guru yang terpilih menjadi subek penelitian
adalah guru mata pelajaran kimia SMK.
C.
Prosedur/Disain Penelitian (siklus)
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan (action
research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru kimia dalam
melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter
Eksperimen di SMK Negeri 2 Binjai.
Tindakan
yang akan dilakukan adalah praktikum kimia melalui pendekatan Starter
Eksperimen. Jenis penelitian tindakan
yang dipilih adalah
jenis emansipatori. Jenis emansipatori ini
dianggap paling tepat
karena penelitian ini
dilakukan untuk mengatasi
permasalah pada tempat kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman
sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru
bersedia melakukan perubahan sehingga
kinerjanya sebagai pendidik
akan mengalami perubahan secara
meningkat.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan
model Kemmis yang terdiri atas empat langkah,
yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Wardhani, 2007:45).
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan langkah-langkah setiap
siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
D.
Teknik dan Instrumen Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing
siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Secara
rinci prosedur penelitian mengikuti langkah-langkah seperti yang digambarkan
pada bagan berikut.
![]() |
Siklus I
1.
Tahap Perencanaan
a.
Menyusun
rencana pelaksanaan PTS
b.
Menyusun
baseline tentang kemampuan guru kimia
c.
Menyusun
langkah-langkah pelaksanaan pendekatan Starter
Eksperimen
d.
Menyusun
format pemantauan
1)
Lembar
observasi
2)
Quality
Cheklist
3)
Pedoman
wawancara
4)
Format
isian
e.
Menyusun
instrumen evaluasi kemampuan guru
f.
Menyusun
jadwal kegiatan
g.
Menyusun
format dokumen foto sesuai dengan tahapan kegiatan
2.
Tahap Pelaksanaan
a.
Penyampaian
surat izin.
b.
Melakukan
kordinasi dan audiensi tentang pelaksanaan PTS.
c.
Melakukan
pengisian instrumen baseline kemampuan guru kimia.
d.
Mensupport
dan memfasilitasi guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
e.
Membimbing
dan memberi contoh kepada guru dalam
melaksanakan pendekatan Starter
Eksperimen.
f.
Menyusun
dokumen foto pelaksanaan kegiatan.
3.
Tahap Pengamatan/Pengumpulan Data
1.
Melakukan
pemantauan dan pengamatan terhadap
perkembangan kemampuan guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
2.
Mengisi
format pemantauan, meliputi :
a.
Lembar
observasi.
b.
Quality
checklist.
c.
Pedoman wawancara
d.
Format
isian.
3.
Melakukan
evaluasi kemampuan guru kimia
4.
Menyusun
dokumen foto pemantauan kegiatan.
4.
Tahap Analisis dan Refleksi
a.
Melakukan
pengolahan data dan menggambarkan trend perkembangan kemampuan guru kimia
dalam melaksanakan praktikum.
b.
Mereview
kesesuaian pelaksanaan tindakan berjalan sesuai rencana.
c.
Mengidentifikasi
kendala dan kelemahan selama proses tindakan.
d.
Mengidentifikasi
kelebihan/ keunggulan dalam proses tindakan yang sudah dilaksanakan.
e.
Mengidentifikasi
bentuk perubahan perilaku dan kemampuan guru kimia.
f.
Mengidentifikasi
rekomendasi teknis untuk memaksimalkan kemampuan guru kimia dalam
melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
Siklus II
Pada dasarnya siklus II memiliki prosedur yang sama dengan siklus I, tetapi harus
dilakukan evalusi,
sehingga pada siklus berikutnya telah mengalami revisi perencanaan.
E.
Teknik Analisis Data
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda, angket,
wawancara, observasi, dan diskusi.
1.
Tes, digunakan untuk mengetahui kompetensi guru sebelum dan sesudah melaksanakan praktikum
melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.
Angket
adalah alat untuk mengetahui pendapat atau sikap guru tentang pelaksanaan
praktikum dan dijawab secara
tertulis. Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup.
3.
Wawancara,
untuk mengetahiu kemampuan awal yang dimiliki guru tentang pendekatan Starter Eksperimen
4.
Observasi, menggunakan lembar observasi aktivitas guru dalam
melaksanakan langkah-langkah pendekatan Starter Eksperimen pendekatan Starter Eksperimen.
5.
Diskusi, dilakukan untuk memperdalam kajian tentang pendekatan Starter Eksperimen antara peneliti,
guru dan pengawas.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan
siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik
persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran.
Data aktivitas guru selama pembelajaran diamati oleh pengamat
dan dianalisis dengan menggunakan skor. Untuk melihat peningkatan kompetensi guru dilakukan perbandingan antara hasil pretes dan
postes. Untuk menghitung persentase perolehan nilai (PPN) digunakan rumus sebagai berikut:
Kriteria Persentase
Perolehan Nilai (PPN) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
0 % < PPN < 64 % artinya guru belum berkompetensi
65 % <
PPN < 100 % artinya guru telah berkompetensi
Guru dinyatakan berkompetensi apabila nilai yang diperoleh lebih besar atau
sama dengan nilai PPN.
Menganalisis data hasil angket dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
F.
Indikator Kinerja Penelitian
Dalam Penelitian ini yang akan dilihat indikator kinerjanya adalah guru kimia di SMK
Negeri 2 Binjai melalui tes, angket dan observasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adrian., (2004), Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa, http://researchengines.com/artos.65.html.
Arifin, A.J.N., Cahyana, U., dan Sutanto, S., (2007), Larutan Elektrolit dan
Non Elektrolit, http://www.e-dukasi.net/mol/mo-full.php?mioid=69&fname=htm.
Arifin,
M., Sudja, W.A., Ismail, A.K., Mulyono., Wahyu, W., (2005), Strategi Belajar
Mengajar Kimia, UNM, Malang.
Depdiknas, (2000), Metode Alternatif Belajar/Mengajar Ilmu
Pengetahuan Alam, Dikmenum,
Jakarta.
Djamarah, S.B., dan Zain, A., (2002), Strategi Belajar Mengajar,
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Joseph, G., (2007), CSSC Produces Science Teaching Manuals, http://www.
Interchurch.org/resources/uploads/file.
Jupri., (2007), Metodologi Mengajar Tanpa Kekerasan dan Menyenangkan, http://genpositif.org/global/smp/jupri.
Kunandar, (2007). Guru
Profesional Impelementasi KTSP dan Sukses dalam
Sertifikasi
Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Mardapi, D., (2000), Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis
Kemampuan Dasar SMU, Depdiknas, Jakarta.
Martiningsih.,
(2007), Beberapa Metode Mengajar, http://martiningsih.blogspot.
Memes, W., (2002), Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Metode
Alternatif Model Pembelajaran IPA Yang Berwawasan Sains dan Teknologi Untuk
Mensukseskan Pendidikan Dasar, Jurnal MIPA 31: 52-56.
Sagala, Syaiful.
2009. Manajemen Strategik
dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan. Bandung:
Alfabeta.
Sani, R.A., (2003), Perlunya Eksperimen Dalam Pembelajaran IPA, Pelangi
Pendidikan 10 (2): 108-111.
Sardiman, A.M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sholahuddin, A., (2001), Pemberdayaan Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya
Menumbuhkembangkan Sikap Positif Terhadap Lingkungan, Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan 032: 618.
Situmorang, M., Purba, J., dan Tambunan, M., (2000), Efektifitas Media
Peta Konsep Dalam Pengajaran Kimia Konsep Mol di Sekolah Menengah Umum, Pelangi
Pendidikan 7(1): 29.
Sudjana, (2002), Metoda Statistika, Penerbit
Tarsito, Bandung.
Urip., (2007), Mengajar/Belajar Kimia Tanpa Eksperimen, http://urip.wordpress.com.
Usman, M.U., (2002), Menjadi Guru Profesional, PT Remaja Rosda
Karya, Bandung
Winarti, A., dan Irhasyuarna, Y., (2004), Optimalisasi Peran
Laboratorium Sebagai Upaya Menyiapkan Pembelajaran Kimia di SMU Dalam
Menghadapi Abad Ke-21, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Ed Khusus 2004:
155.
Wiyanto., Sopyan, A., Nugroho., dan Wibowo, S.W., (2007), Potret
Pembelajaran Sains di SMP dan SMA, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha
2: 386.
Yandani, R., (2006), Analisis Kesulitan Guru Kimia Dalam Pelaksanaan
Praktikum KBK Pada Pengajaran Kimia se-Kota Binjai, Skripsi, FMIPA,
Unimed, Medan.
Yasa, P., (1999), Pembelajaran Fisika Berwawasan Teknologi Masyarakat
Dengan Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Upaya Penyempurnaan Pembelajaran
Menuju Literasi Sains pada SLTP Negeri di Singaraja, Jurnal Aneka Widya
STKIP Singaraja 2: 61-62.
Proposal Penelitian Tindakan
Sekolah
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KIMIA DALAM PRAKTIKUM MELALUI
PENDEKATAN STARTER EKSPERIMEN DI SMK NEGERI 2 BINJAI
NAMA : AFRIZEN
NIM : 8146132031
KELAS :
A1 W
PRODI : AP Kepengawasan
DOSEN : Dr. DARWIN, M.Pd
![]() |
PRODI
ADMINISTRASI PENDIDIKAN
PROGRAM PASCASARJANA
U N I M E D
2014
KATA PENGANTAR
Puji dan syukur marilah kita ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala
rahmat dan KaruniaNya yang memberikan kesehatan dan hikmah kepada penyusun, sehingga
proposal ini dapat
diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang direncanakan.
Proposal PTS ini
berjudul ”Peningkatan Kemampuan Guru Kimia Dalam Praktikum
Melalui Pendekatan Starter Eksperimen
di SMK Negeri 2 Binjai” disusun untuk memenuhi tugas individu pada mata kuliah Metode Penelitian
Pendidikan Prodi Administrasi Pendidikan Konsentrasi Kepengawasan.
Penyusun telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian proposal ini, namun penyusun
menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi tata bahasa, untuk itu penyusun
mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi
sempurnanya proposal ini. Kiranya
isi proposal ini
bermanfaat dalam memperkaya khasanah
ilmu pendidikan.
Medan,
29 Desember 2014
Penyusun,
DAFTAR ISI
Hal
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi....................................................................................................... ii
BAB
I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah......................................................................... 1
B. Identifikasi Pemecahan Masalah............................................................ 2
C. Penetapan Fokus Area............................................................................ 4
D. Perumusan Masalah................................................................................ 5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian.................................................................................. 5
BAB
II KAJIAN TEORI............................................................................. 6
A. Deskripsi Teori......................................................................................... 6
1. Kemampuan Guru.............................................................................. 6
2. Pendekatan Starter Eksperimen........................................................ 7
B. Kerangka Berpikir................................................................................ 11
C. Hipotesis Penelitian (Tindakan)............................................................ 11
BAB
III METODE PENELITIAN.......................................................... 12
A.
Tempat dan Waktu Penelitian............................................................. 12
B. Subyek
Penelitian.................................................................................. 12
C. Prosedur/Disain Siklus Penelitian....................................................... 12
D. Teknik dan
Instrumen Penelitian........................................................ 13
E. Teknik
Analisis Data............................................................................ 16
F. Indikator
Kinerja Penelitian................................................................ 17
DAFTAR PUSTAKA
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang Masalah
Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh
guru-guru kimia di sekolah menengah adalah kebanyakan siswa menganggap mata
pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa sudah
terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin
disebabkan oleh penyajian materi yang kurang menarik dan membosankan, sehingga
terkesan ”angker”, sulit, dan menakutkan bagi siswa Sekolah Menengah Umum (SMU), dan akhirnya banyak
siswa SMU yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Sakkashiri dalam
Situmorang, 2000).
Berdasarkan pengalaman penulis di sekolah PPLT 2007
menunjukkan bahwa banyak alat-alat dan bahan kimia di laboratorium SMA dalam
kondisi rusak, menumpuk dan tidak terawat karena jarang digunakan pada pembelajaran
kimia. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Yandani (2006) menunjukkan bahwa
pelaksanaan praktikum pada pengajaran kimia SMA di kota Binjai belum optimal,
yaitu sebanyak 12,5% responden (guru kimia) menyatakan tidak pernah
melaksanakan praktikum pada pengajaran kimia di sekolah dan hanya 31,25%
responden yang menguasai penggunaan seluruh alat-alat yang tersedia pada
laboratorium kimia. Artinya,
kemampuan guru kimia masih rendah dalam melaksanakan praktikum di sekolah.
Beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan,
diantaranya: (1) Sarana dan prasarana laboratorium kimia di sekolah tidak
lengkap; (2) Mahalnya alat-alat dan bahan kimia sehingga tidak dapat dijangkau
oleh pihak sekolah; (3) Tidak dimilikinya tenaga laboran yang membantu guru
mempersiapkan pelaksanaan praktikum; (4) Terbatasnya alokasi waktu yang
tersedia mengingat banyaknya materi kimia yang harus diberikan kepada siswa
sesuai tuntutan kurikulum. Sehingga
materi kimia yang seharusnya dipraktikumkan, hanya diajarkan secara teori.
Kenyataan yang ada, berdasarkan hasil studi Wiyanto
(2007) menunjukkan bahwa pada umumnya
pembelajaran Sains yang cenderung monoton dengan aktivitas Sains termasuk
rendah. Guru cenderung berceramah atau menjelaskan, siswa mendengar dan
mencatat, dan kegiatan laboratorium jarang dilakukan. Metode eksperimen
mempunyai peran dan fungsi yang amat penting dalam pembelajaran materi kimia
berkarakter praktikum, tetapi metode ini masih sangat jarang dilakukan di SMA.
Menurut Urip (2007) hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya guru kimia,
tidak tersedianya laboratorium kimia di sekolah, tidak tersedianya alat-alat
dan bahan praktikum yang diperlukan, dan guru kimia yang ada tidak mau
membimbing praktikum.
B.
Identifikasi Pemecahan Masalah
Permasalahan
rendahnya kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum di sekolah
berpangkal dari kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan metode atau
pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran kimia. Disamping itu laboratorium
kimia sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal. Kreativitas
guru kimia dalam mengelola kegiatan laboratorium pada pengajaran kimia belum
menunjukkan pengajaran yang inovatif sehingga materi kimia yang berkarakter
praktikum diajarkan dengan metode konvensional. Sementara dalam mata pelajaran
kimia pencapaian kemampuan siswa seyogianya harus diukur atas kemampuan teori
dan praktek.
Pemilihan metode pengajaran yang tepat sangat
menentukan di dalam peningkatan hasil belajar siswa. Metode pengajaran akan
mampu meningkatkan motivasi dan daya serap siswa terhadap mata pelajaran yang
disampaikan. Untuk menjadikan ilmu kimia sebagai ilmu yang konkrit sekaligus
dapat mengaktifkan indera seluruh siswa, maka metode yang tepat dipakai adalah
metode eksperimen. Laporan hasil penelitian Sholahuddin (2001) menekankan bahwa
pemberdayaan mata pelajaran IPA termasuk kimia dapat dicapai jika proses
belajar mengajar melibatkan metode eksperimen. Jadi, tidak sekedar interaksi
satu arah dan hafalan (rote learning) tetapi belajar yang sesungguhnya (meaningfull
learning).
Metode alternatif dalam pengajaran mata pelajaran
kimia berkarakter praktikum di SMA adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau
Pendekatan Percobaan Pembuka (Depdiknas, 2000). Pendekatan Starter Eksperimen
ini dapat menjadi solusi dari keterbatasan waktu, fasilitas, sarana dan
prasarana laboratorium yang sering menjadi kendala bagi guru kimia dalam
melaksanakan kegiatan praktikum. Kelebihan Pendekatan Starter Eksperimen adalah
sebagai berikut: (1) Laboratorium tidak harus mutlak diperlukan dalam pelaksanaan
praktikum; (2) Keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium dapat diatasi
dengan membuat suatu rancangan praktikum sederhana di dalam kelas dengan
memakai bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dari lingkungan; (3) Dapat
menghemat biaya pembelian alat dan bahan-bahan kimia; (4) Alokasi waktu singkat
karena materi tidak diceramahkan lagi; (5) Dapat mengembangkan pola berfikir,
penguasaan konsep, keterampilan dan sikap siswa secara optimal.
Hasil penelitian Yasa (1999) menunjukkan bahwa
pembelajaran dengan Pendekatan Starter Eksperimen mampu meningkatkan hasil
belajar siswa, dimana rerata skor hasil belajar mencapai 7,20 (melebihi skor
hasil belajar minimal, yaitu 6,5 ke atas) dengan ketuntasan belajar mencapai
91%. Di samping itu penelitian Memes (2002) menunjukkan bahwa penerapan
Pendekatan Starter Eksperimen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau
dari profil pembelajaran yang lebih kondusif. Rerata hasil belajar melebihi
skor standar minimum (6,0) yaitu 7,37 dengan ketuntasan belajar 96,77%. Menurut
Joseph (2007) TSSO-Ed (Technical Support Services Officer for Education)
telah mempublikasikan bahwa pemerintahan Jerman sudah berhasil menemukan
inovasi pengajaran program IPA melalui dari pengalaman dan perkembangan
terpenting selama guru menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen ini.
C.
Penetapan Focus Area
Berdasarkan
latar belakang dan identifikasi pemecahan masalah, maka dirumuskan fokus area
penelitian:
Upaya peningkatan kemampuan
guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen
D.
Perumusan Masalah
1. Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia
dalam menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2. Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia
dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
E.
Tujuan Penelitian
PTS yang dilakukan di SMK
Negeri 2 Binjai ini bertujuan untuk:
1. Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam
menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2. Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam
melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter
Eksperimen.
F.
Manfaat Penelitian
Apabila
tujuan tersebut di atas dapat tercapai, maka hasil penelitian akan bermanfaat,
terutama:
1.
Bagi Pengawas, meningkatnya profesionalisme pengawas dalam
melaksanakan tugas dan fungsinya, khususnya dalam hal upaya peningkatan
profesionalisme guru binaannya.
2.
Bagi
Guru, sebagai informasi dan stimulan
untuk mengembangkan kemampuan dalam menerapkan pendekatan Starter Eksperimen
sebagai pembelajaran yang inovatif.
BAB II
KAJIAN TEORI
A.
Deskripsi Teori
1.
Kemampuan Guru
Menurut Usman (2005) kompetensi
adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik
yang kualitatif maupun kuantitatif. Pengertian ini mengandung bahwa kompetensi
itu dapat digunakan dala dua konteks, yakni: pertama,
sebagai indkator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati. Kedua, sebagai konsep yang mencakup
aspek-aspek kognitif,
efektif, dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanannya secara utuh. Sedangkan
Roestiyah (1989) mengartikan
kompetensi seperti yang dikutipnya dari pendapat W. Robert Houston sebagai
“suatu tugas memamdai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan
yang dituntut oleh jabatan tertentu.
Kompetensi juga dapat diartikan
sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang
yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan
perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya
(Mulyasa, 2003).
Menurut Sagala (2008: 29) kompetensi
adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan
latihan. Dengan demikian, istilah kompetensi sangat kontekstual dan tidak universal
untuk semua jenis pekerjaan. Setiap jenis pekerjaan memerlukan porsi yang
berbeda-beda antara pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya. Pekerjaan-pekerjaan
berkerah putih, pengetahuan lebih besar porsinya daripada sikap dan
keterampilan, dan pekerjaan berkerah biru memerlukan porsi keterampilan fisik
lebih besar daripada pengetahuan dan sikap.
Guru adalah pendidik professional
dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai dan
menevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan
formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesi guru merupakan
bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut:
(1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealism; (2) memiliki komitmen
untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3)
memiliki kualifikasi akademik ddan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan
bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang
tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas tugas keprofesionalan; (6) memperoleh
penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki
kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan
belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hokum dalam
melaksanakan tugas keprofesionalan; (9) memiliki organisasi profesi yang
mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas
keprofesionalan guru (Kunandar,
2007).
2.
Pendekatan Starter Eksperimen
Belajar melalui praktek atau mengalami secara langsung
akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berfikir kritis dan
lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja (Sardiman, 2006). Hal
ini sejalan dengan pendapat Sani (2003) bahwa pembelajaran IPA yang dapat
mengembangkan pola berpikir siswa harus dilakukan dengan menggunakan
eksperimen. Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran,
dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri,
mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan
menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan ataupun proses sesuatu
(Djamarah, 2002). Selanjutnya Arifin (2005) menyatakan bahwa fungsi dari metode
eksperimen merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip
tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran materi kimia yang
berkarakter praktikum secara efektif dan efesien, maka diperlukan suatu
pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarti (2004) bahwa
“pengajaran sains memerlukan pemberdayaan secara optimal semua perangkat
pembelajaran yang mendukung, diantaranya pemilihan metode dan pendekatan yang
tepat serta penggunaaan semaksimal mungkin semua sumber belajar yang ada”.
Depdiknas (2000) mengemukakan bahwa pendekatan yang dianggap paling tepat dalam
pembelajaran kimia adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan
Percobaan Pembuka. Dalam pendekatan ini siswa dituntut lebih banyak aktif
mencoba, atau diberikan peragaan, mencatat, menyimpulkan, dan diberikan umpan
balik pada saat itu juga dalam bentuk diskusi aktif dalam kelompok maupun pleno
di kelas. Materi pelajaran tidak perlu lagi diceramahkan di kelas, mengingat
siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap.
Selanjutnya Memes (2002) mengemukakan bahwa penerapan
Pendekatan Starter Eksperimen bertujuan untuk memperbaiki aktivitas belajar
mengajar dan dalam hal mata pelajaran. Percobaan awal atau percobaan pembuka
dapat menumbuhkembangkan minat dan perhatian siswa terhadap topik yang akan
dibahas. Pendekatan Starter Eksperimen dianggap sebagai pendekatan yang
revolusioner tanpa rencana dan dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali dengan
pengamatan lingkungan, dilanjutkan dengan memisahkan langkah-langkah penting,
bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan
kembali peranan guru sebagai stimulator dan organisator, pengetahuan ingatan
menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi kepada siswa.
Dalam Pendekatan Starter Eksperimen yang diusulkan,
keaktifan maupun mutu penguasaan siswa dalam kegiatan belajar langsung
kelihatan dari kinerjanya selama percobaan ataupun selama kegiatan
berdiskusi. Dengan demikian guru dapat
menilai siswa secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain
dengan cara memberikan ulangan harian, kesempatan tanya jawab dan diskusi
sebelum, selama maupun sesudah kegiatan belajar mengajar dapat menjadi petunjuk
yang baik bagi guru untuk menilai masing-masing siswa secara individual.
Keluaran (output) yang diharapkan dengan
diterapkannya Pendekatan Starter Eksperimen harus lebih menekankan pada
penyelesaian persoalan kompleks (terpadu) secara kreatif. Melalui observasi
langsung maka kemampuan kognitif, keterampilan maupun afektif siswa dapat
langsung dievaluasi. Beberapa aspek komprehensif siswa yang tidak dapat
dimunculkan selama kegiatan belajar dapat dievaluasi dengan sistem ulangan/tes.
Pada pendekatan ini siswa diharapkan banyak melakukan
pengamatan, kemudian seketika dibenarkan bila pengamatan menyimpang jauh dari
sasaran. Setelah mengamati kemudian disusul dengan pembuktian yang telah
dirancangnya, siswa kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Pengamatan
maupun percobaan dilakukan oleh siswa secara berkelompok dengan jumlah siswa
maksimum 5 orang. Observasi langsung dilakukan secara interaktif terhadap
peragaan yang dilakukan oleh guru. Objek observasi sedapat mungkin adalah
benda-benda yang ada di lingkungan hidup sehari-hari dan peralatan serta bahan-bahan
kimia yang mudah diperoleh dan dijangkau.
Adapun tahapan-tahapan dalam Pendekatan Starter
Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum adalah sebagai berikut:
a.
Siswa diminta mengamati peragaan yang dilakukan oleh
guru.
b.
Siswa mencatat hasil pengamatan dari percobaan yang
dilakukan oleh guru.
c.
Hasil pengamatan dikumpulkan untuk evaluasi guru kimia.
d.
Percobaan diulang untuk pengamatan lebih seksama dan
lebih lengkap.
e.
Siswa menuliskan penjelasan bagi setiap pengamatan yang
ditemuinya.
f.
Percobaan pembuktian dilakukan dan diperagakan oleh
siswa untuk membenarkan penjelasan yang diajukannya.
g.
Siswa melaporkan hasil percobaan yang dibuktikannya.
h.
Kesimpulan dituliskan dengan kaitan antar konsep yang
ada.
i.
Buku catatan percobaan untuk menilai secara instan hasil
belajar. (Depdiknas, 2000).
B.
Kerangka Berpikir
Dari kajian teori di atas dapat diduga bahwa:
1.
Peningkatan
kemampuan guru kimia dalam mengguanakan alat dan bahan praktikum dapat
dilakukan dengan menerapkan pendekatan Starter
Eksperimen.
2.
Pendekatan Starter
Eksperimen dapat merangsang minat belajar dan perhatian guru untuk memahami konsep-konsep kimia
serta informasi yang diperolehnya dapat bertahan lebih lama di dalam struktur
ingatan, yang diawali dengan pengamatan
lingkungan, memisahkan langkah-langkah
penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep,
mendefinisikan kembali, pengetahuan
ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi.
C.
Hipotesis Penelitian (Tindakan)
1.
Kemampuan
guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum dapat ditingkatkan
melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.
Kemampuan
guru kimia dalam melaksanakan praktikum dapat ditingkatkan melalui pendekatan Starter Eksperimen.
BAB III
METODE PENELITIAN
A.
Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan
sekolah ini akan dilaksanakan
di SMK Negeri 2 Kota Binjai.
Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu pada
bulan Januari sampai dengan Maret 2015, mulai dari tahap perencanaan sampai
dengan pelaporan.
B.
Subyek Penelitian
Subjek
dalam penelitian ini adalah tiga orang guru mata pelajaran kimia di SMK Negeri
2 Binjai dan satu orang pengawas dinas pendidikan Kota Binjai.
Subjek ditentukan dengan cara purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan
tertentu (Sugiyono, 2008:85) yakni guru yang terpilih menjadi subek penelitian
adalah guru mata pelajaran kimia SMK.
C.
Prosedur/Disain Penelitian (siklus)
Penelitian
ini adalah penelitian tindakan (action
research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru kimia dalam
melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter
Eksperimen di SMK Negeri 2 Binjai.
Tindakan
yang akan dilakukan adalah praktikum kimia melalui pendekatan Starter
Eksperimen. Jenis penelitian tindakan
yang dipilih adalah
jenis emansipatori. Jenis emansipatori ini
dianggap paling tepat
karena penelitian ini
dilakukan untuk mengatasi
permasalah pada tempat kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman
sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru
bersedia melakukan perubahan sehingga
kinerjanya sebagai pendidik
akan mengalami perubahan secara
meningkat.
Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan
model Kemmis yang terdiri atas empat langkah,
yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Wardhani, 2007:45).
Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan langkah-langkah setiap
siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.
D.
Teknik dan Instrumen Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing
siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Secara
rinci prosedur penelitian mengikuti langkah-langkah seperti yang digambarkan
pada bagan berikut.
![]() |
Siklus I
1.
Tahap Perencanaan
a.
Menyusun
rencana pelaksanaan PTS
b.
Menyusun
baseline tentang kemampuan guru kimia
c.
Menyusun
langkah-langkah pelaksanaan pendekatan Starter
Eksperimen
d.
Menyusun
format pemantauan
1)
Lembar
observasi
2)
Quality
Cheklist
3)
Pedoman
wawancara
4)
Format
isian
e.
Menyusun
instrumen evaluasi kemampuan guru
f.
Menyusun
jadwal kegiatan
g.
Menyusun
format dokumen foto sesuai dengan tahapan kegiatan
2.
Tahap Pelaksanaan
a.
Penyampaian
surat izin.
b.
Melakukan
kordinasi dan audiensi tentang pelaksanaan PTS.
c.
Melakukan
pengisian instrumen baseline kemampuan guru kimia.
d.
Mensupport
dan memfasilitasi guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
e.
Membimbing
dan memberi contoh kepada guru dalam
melaksanakan pendekatan Starter
Eksperimen.
f.
Menyusun
dokumen foto pelaksanaan kegiatan.
3.
Tahap Pengamatan/Pengumpulan Data
1.
Melakukan
pemantauan dan pengamatan terhadap
perkembangan kemampuan guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
2.
Mengisi
format pemantauan, meliputi :
a.
Lembar
observasi.
b.
Quality
checklist.
c.
Pedoman wawancara
d.
Format
isian.
3.
Melakukan
evaluasi kemampuan guru kimia
4.
Menyusun
dokumen foto pemantauan kegiatan.
4.
Tahap Analisis dan Refleksi
a.
Melakukan
pengolahan data dan menggambarkan trend perkembangan kemampuan guru kimia
dalam melaksanakan praktikum.
b.
Mereview
kesesuaian pelaksanaan tindakan berjalan sesuai rencana.
c.
Mengidentifikasi
kendala dan kelemahan selama proses tindakan.
d.
Mengidentifikasi
kelebihan/ keunggulan dalam proses tindakan yang sudah dilaksanakan.
e.
Mengidentifikasi
bentuk perubahan perilaku dan kemampuan guru kimia.
f.
Mengidentifikasi
rekomendasi teknis untuk memaksimalkan kemampuan guru kimia dalam
melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
Siklus II
Pada dasarnya siklus II memiliki prosedur yang sama dengan siklus I, tetapi harus
dilakukan evalusi,
sehingga pada siklus berikutnya telah mengalami revisi perencanaan.
E.
Teknik Analisis Data
Teknik
pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda, angket,
wawancara, observasi, dan diskusi.
1.
Tes, digunakan untuk mengetahui kompetensi guru sebelum dan sesudah melaksanakan praktikum
melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.
Angket
adalah alat untuk mengetahui pendapat atau sikap guru tentang pelaksanaan
praktikum dan dijawab secara
tertulis. Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup.
3.
Wawancara,
untuk mengetahiu kemampuan awal yang dimiliki guru tentang pendekatan Starter Eksperimen
4.
Observasi, menggunakan lembar observasi aktivitas guru dalam
melaksanakan langkah-langkah pendekatan Starter Eksperimen pendekatan Starter Eksperimen.
5.
Diskusi, dilakukan untuk memperdalam kajian tentang pendekatan Starter Eksperimen antara peneliti,
guru dan pengawas.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan
siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik
persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan
pembelajaran.
Data aktivitas guru selama pembelajaran diamati oleh pengamat
dan dianalisis dengan menggunakan skor. Untuk melihat peningkatan kompetensi guru dilakukan perbandingan antara hasil pretes dan
postes. Untuk menghitung persentase perolehan nilai (PPN) digunakan rumus sebagai berikut:
Kriteria Persentase
Perolehan Nilai (PPN) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai
berikut :
0 % < PPN < 64 % artinya guru belum berkompetensi
65 % <
PPN < 100 % artinya guru telah berkompetensi
Guru dinyatakan berkompetensi apabila nilai yang diperoleh lebih besar atau
sama dengan nilai PPN.
Menganalisis data hasil angket dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:
F.
Indikator Kinerja Penelitian
Dalam Penelitian ini yang akan dilihat indikator kinerjanya adalah guru kimia di SMK
Negeri 2 Binjai melalui tes, angket dan observasi.
DAFTAR PUSTAKA
Adrian., (2004), Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa, http://researchengines.com/artos.65.html.
Arifin, A.J.N., Cahyana, U., dan Sutanto, S., (2007), Larutan Elektrolit dan
Non Elektrolit, http://www.e-dukasi.net/mol/mo-full.php?mioid=69&fname=htm.
Arifin,
M., Sudja, W.A., Ismail, A.K., Mulyono., Wahyu, W., (2005), Strategi Belajar
Mengajar Kimia, UNM, Malang.
Depdiknas, (2000), Metode Alternatif Belajar/Mengajar Ilmu
Pengetahuan Alam, Dikmenum,
Jakarta.
Djamarah, S.B., dan Zain, A., (2002), Strategi Belajar Mengajar,
Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.
Joseph, G., (2007), CSSC Produces Science Teaching Manuals, http://www.
Interchurch.org/resources/uploads/file.
Jupri., (2007), Metodologi Mengajar Tanpa Kekerasan dan Menyenangkan, http://genpositif.org/global/smp/jupri.
Kunandar, (2007). Guru
Profesional Impelementasi KTSP dan Sukses dalam
Sertifikasi
Guru. Jakarta: Rajawali Pers.
Mardapi, D., (2000), Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis
Kemampuan Dasar SMU, Depdiknas, Jakarta.
Martiningsih.,
(2007), Beberapa Metode Mengajar, http://martiningsih.blogspot.
Memes, W., (2002), Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Metode
Alternatif Model Pembelajaran IPA Yang Berwawasan Sains dan Teknologi Untuk
Mensukseskan Pendidikan Dasar, Jurnal MIPA 31: 52-56.
Sagala, Syaiful.
2009. Manajemen Strategik
dalam Peningkatan Mutu
Pendidikan. Bandung:
Alfabeta.
Sani, R.A., (2003), Perlunya Eksperimen Dalam Pembelajaran IPA, Pelangi
Pendidikan 10 (2): 108-111.
Sardiman, A.M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.
Sholahuddin, A., (2001), Pemberdayaan Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya
Menumbuhkembangkan Sikap Positif Terhadap Lingkungan, Jurnal Pendidikan dan
Kebudayaan 032: 618.
Situmorang, M., Purba, J., dan Tambunan, M., (2000), Efektifitas Media
Peta Konsep Dalam Pengajaran Kimia Konsep Mol di Sekolah Menengah Umum, Pelangi
Pendidikan 7(1): 29.
Sudjana, (2002), Metoda Statistika, Penerbit
Tarsito, Bandung.
Urip., (2007), Mengajar/Belajar Kimia Tanpa Eksperimen, http://urip.wordpress.com.
Usman, M.U., (2002), Menjadi Guru Profesional, PT Remaja Rosda
Karya, Bandung
Winarti, A., dan Irhasyuarna, Y., (2004), Optimalisasi Peran
Laboratorium Sebagai Upaya Menyiapkan Pembelajaran Kimia di SMU Dalam
Menghadapi Abad Ke-21, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Ed Khusus 2004:
155.
Wiyanto., Sopyan, A., Nugroho., dan Wibowo, S.W., (2007), Potret
Pembelajaran Sains di SMP dan SMA, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha
2: 386.
Yandani, R., (2006), Analisis Kesulitan Guru Kimia Dalam Pelaksanaan
Praktikum KBK Pada Pengajaran Kimia se-Kota Binjai, Skripsi, FMIPA,
Unimed, Medan.
Yasa, P., (1999), Pembelajaran Fisika Berwawasan Teknologi Masyarakat
Dengan Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Upaya Penyempurnaan Pembelajaran
Menuju Literasi Sains pada SLTP Negeri di Singaraja, Jurnal Aneka Widya
STKIP Singaraja 2: 61-62.

