Selasa, 14 April 2015

PENELITIAN TINDAKAN SEKOLAH

  
PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KIMIA DALAM PRAKTIKUM MELALUI PENDEKATAN STARTER EKSPERIMEN DI SMK NEGERI 2 BINJAI

Oleh: Afrizen, S.Pd


BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh guru-guru kimia di sekolah menengah adalah kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyajian materi yang kurang menarik dan membosankan, sehingga terkesan ”angker”, sulit, dan menakutkan bagi siswa Sekolah  Menengah Umum (SMU), dan akhirnya banyak siswa SMU yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Sakkashiri dalam Situmorang, 2000).
Berdasarkan pengalaman penulis di sekolah PPLT 2007 menunjukkan bahwa banyak alat-alat dan bahan kimia di laboratorium SMA dalam kondisi rusak, menumpuk dan tidak terawat karena jarang digunakan pada pembelajaran kimia. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Yandani (2006) menunjukkan bahwa pelaksanaan praktikum pada pengajaran kimia SMA di kota Binjai belum optimal, yaitu sebanyak 12,5% responden (guru kimia) menyatakan tidak pernah melaksanakan praktikum pada pengajaran kimia di sekolah dan hanya 31,25% responden yang menguasai penggunaan seluruh alat-alat yang tersedia pada laboratorium kimia. Artinya, kemampuan guru kimia masih rendah dalam melaksanakan praktikum di sekolah.
Beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan, diantaranya: (1) Sarana dan prasarana laboratorium kimia di sekolah tidak lengkap; (2) Mahalnya alat-alat dan bahan kimia sehingga tidak dapat dijangkau oleh pihak sekolah; (3) Tidak dimilikinya tenaga laboran yang membantu guru mempersiapkan pelaksanaan praktikum; (4) Terbatasnya alokasi waktu yang tersedia mengingat banyaknya materi kimia yang harus diberikan kepada siswa sesuai tuntutan kurikulum. Sehingga materi kimia yang seharusnya dipraktikumkan, hanya diajarkan secara teori.
Kenyataan yang ada, berdasarkan hasil studi Wiyanto (2007)  menunjukkan bahwa pada umumnya pembelajaran Sains yang cenderung monoton dengan aktivitas Sains termasuk rendah. Guru cenderung berceramah atau menjelaskan, siswa mendengar dan mencatat, dan kegiatan laboratorium jarang dilakukan. Metode eksperimen mempunyai peran dan fungsi yang amat penting dalam pembelajaran materi kimia berkarakter praktikum, tetapi metode ini masih sangat jarang dilakukan di SMA. Menurut Urip (2007) hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya guru kimia, tidak tersedianya laboratorium kimia di sekolah, tidak tersedianya alat-alat dan bahan praktikum yang diperlukan, dan guru kimia yang ada tidak mau membimbing praktikum. 

B.       Identifikasi Pemecahan Masalah
Permasalahan rendahnya kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum di sekolah berpangkal dari kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan metode atau pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran kimia. Disamping itu laboratorium kimia sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal. Kreativitas guru kimia dalam mengelola kegiatan laboratorium pada pengajaran kimia belum menunjukkan pengajaran yang inovatif sehingga materi kimia yang berkarakter praktikum diajarkan dengan metode konvensional. Sementara dalam mata pelajaran kimia pencapaian kemampuan siswa seyogianya harus diukur atas kemampuan teori dan praktek.
Pemilihan metode pengajaran yang tepat sangat menentukan di dalam peningkatan hasil belajar siswa. Metode pengajaran akan mampu meningkatkan motivasi dan daya serap siswa terhadap mata pelajaran yang disampaikan. Untuk menjadikan ilmu kimia sebagai ilmu yang konkrit sekaligus dapat mengaktifkan indera seluruh siswa, maka metode yang tepat dipakai adalah metode eksperimen. Laporan hasil penelitian Sholahuddin (2001) menekankan bahwa pemberdayaan mata pelajaran IPA termasuk kimia dapat dicapai jika proses belajar mengajar melibatkan metode eksperimen. Jadi, tidak sekedar interaksi satu arah dan hafalan (rote learning) tetapi belajar yang sesungguhnya (meaningfull learning).
Metode alternatif dalam pengajaran mata pelajaran kimia berkarakter praktikum di SMA adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka (Depdiknas, 2000). Pendekatan Starter Eksperimen ini dapat menjadi solusi dari keterbatasan waktu, fasilitas, sarana dan prasarana laboratorium yang sering menjadi kendala bagi guru kimia dalam melaksanakan kegiatan praktikum. Kelebihan Pendekatan Starter Eksperimen adalah sebagai berikut: (1) Laboratorium tidak harus mutlak diperlukan dalam pelaksanaan praktikum; (2) Keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium dapat diatasi dengan membuat suatu rancangan praktikum sederhana di dalam kelas dengan memakai bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dari lingkungan; (3) Dapat menghemat biaya pembelian alat dan bahan-bahan kimia; (4) Alokasi waktu singkat karena materi tidak diceramahkan lagi; (5) Dapat mengembangkan pola berfikir, penguasaan konsep, keterampilan dan sikap siswa secara optimal.
Hasil penelitian Yasa (1999) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Starter Eksperimen mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dimana rerata skor hasil belajar mencapai 7,20 (melebihi skor hasil belajar minimal, yaitu 6,5 ke atas) dengan ketuntasan belajar mencapai 91%. Di samping itu penelitian Memes (2002) menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau dari profil pembelajaran yang lebih kondusif. Rerata hasil belajar melebihi skor standar minimum (6,0) yaitu 7,37 dengan ketuntasan belajar 96,77%. Menurut Joseph (2007) TSSO-Ed (Technical Support Services Officer for Education) telah mempublikasikan bahwa pemerintahan Jerman sudah berhasil menemukan inovasi pengajaran program IPA melalui dari pengalaman dan perkembangan terpenting selama guru menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen ini.

C.      Penetapan Focus Area
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi pemecahan masalah, maka dirumuskan fokus area penelitian:
Upaya peningkatan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen
D.      Perumusan Masalah
1.    Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.    Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.

E.       Tujuan Penelitian
PTS yang dilakukan di SMK Negeri 2 Binjai ini bertujuan untuk:
1.    Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.    Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.

F.       Manfaat Penelitian
Apabila tujuan tersebut di atas dapat tercapai, maka hasil penelitian akan bermanfaat, terutama:
1.         Bagi Pengawas, meningkatnya profesionalisme pengawas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, khususnya dalam hal upaya peningkatan profesionalisme guru binaannya.
2.         Bagi Guru, sebagai informasi dan stimulan untuk mengembangkan kemampuan dalam menerapkan pendekatan Starter Eksperimen sebagai pembelajaran yang inovatif.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Deskripsi Teori
1.      Kemampuan Guru
Menurut Usman (2005) kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif. Pengertian ini mengandung bahwa kompetensi itu dapat digunakan dala dua konteks, yakni: pertama, sebagai indkator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati. Kedua sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek  kognitif, efektif, dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanannya secara utuh. Sedangkan Roestiyah (1989) mengartikan kompetensi seperti yang dikutipnya dari pendapat W. Robert Houston sebagai “suatu tugas memamdai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan tertentu.
Kompetensi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Mulyasa, 2003).
Menurut Sagala (2008: 29) kompetensi adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Dengan demikian, istilah kompetensi sangat kontekstual dan tidak universal untuk semua jenis pekerjaan. Setiap jenis pekerjaan memerlukan porsi yang berbeda-beda antara pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya. Pekerjaan-pekerjaan berkerah putih, pengetahuan lebih besar porsinya daripada sikap dan keterampilan, dan pekerjaan berkerah biru memerlukan porsi keterampilan fisik lebih besar daripada pengetahuan dan sikap.
Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,  mengarahkan, melatih, menilai dan menevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealism; (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3) memiliki kualifikasi akademik ddan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas tugas keprofesionalan; (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hokum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru (Kunandar, 2007).

2.      Pendekatan Starter Eksperimen
Belajar melalui praktek atau mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berfikir kritis dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja (Sardiman, 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Sani (2003) bahwa pembelajaran IPA yang dapat mengembangkan pola berpikir siswa harus dilakukan dengan menggunakan eksperimen. Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan ataupun proses sesuatu (Djamarah, 2002). Selanjutnya Arifin (2005) menyatakan bahwa fungsi dari metode eksperimen merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran materi kimia yang berkarakter praktikum secara efektif dan efesien, maka diperlukan suatu pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarti (2004) bahwa “pengajaran sains memerlukan pemberdayaan secara optimal semua perangkat pembelajaran yang mendukung, diantaranya pemilihan metode dan pendekatan yang tepat serta penggunaaan semaksimal mungkin semua sumber belajar yang ada”. Depdiknas (2000) mengemukakan bahwa pendekatan yang dianggap paling tepat dalam pembelajaran kimia adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka. Dalam pendekatan ini siswa dituntut lebih banyak aktif mencoba, atau diberikan peragaan, mencatat, menyimpulkan, dan diberikan umpan balik pada saat itu juga dalam bentuk diskusi aktif dalam kelompok maupun pleno di kelas. Materi pelajaran tidak perlu lagi diceramahkan di kelas, mengingat siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap.
Selanjutnya Memes (2002) mengemukakan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen bertujuan untuk memperbaiki aktivitas belajar mengajar dan dalam hal mata pelajaran. Percobaan awal atau percobaan pembuka dapat menumbuhkembangkan minat dan perhatian siswa terhadap topik yang akan dibahas. Pendekatan Starter Eksperimen dianggap sebagai pendekatan yang revolusioner tanpa rencana dan dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali dengan pengamatan lingkungan, dilanjutkan dengan memisahkan langkah-langkah penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali peranan guru sebagai stimulator dan organisator, pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi kepada siswa.
Dalam Pendekatan Starter Eksperimen yang diusulkan, keaktifan maupun mutu penguasaan siswa dalam kegiatan belajar langsung kelihatan dari kinerjanya selama percobaan ataupun selama kegiatan berdiskusi.  Dengan demikian guru dapat menilai siswa secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain dengan cara memberikan ulangan harian, kesempatan tanya jawab dan diskusi sebelum, selama maupun sesudah kegiatan belajar mengajar dapat menjadi petunjuk yang baik bagi guru untuk menilai masing-masing siswa secara individual.
Keluaran (output) yang diharapkan dengan diterapkannya Pendekatan Starter Eksperimen harus lebih menekankan pada penyelesaian persoalan kompleks (terpadu) secara kreatif. Melalui observasi langsung maka kemampuan kognitif, keterampilan maupun afektif siswa dapat langsung dievaluasi. Beberapa aspek komprehensif siswa yang tidak dapat dimunculkan selama kegiatan belajar dapat dievaluasi dengan sistem ulangan/tes.
Pada pendekatan ini siswa diharapkan banyak melakukan pengamatan, kemudian seketika dibenarkan bila pengamatan menyimpang jauh dari sasaran. Setelah mengamati kemudian disusul dengan pembuktian yang telah dirancangnya, siswa kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Pengamatan maupun percobaan dilakukan oleh siswa secara berkelompok dengan jumlah siswa maksimum 5 orang. Observasi langsung dilakukan secara interaktif terhadap peragaan yang dilakukan oleh guru. Objek observasi sedapat mungkin adalah benda-benda yang ada di lingkungan hidup sehari-hari dan peralatan serta bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dan dijangkau.
Adapun tahapan-tahapan dalam Pendekatan Starter Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum adalah sebagai berikut:
a.         Siswa diminta mengamati peragaan yang dilakukan oleh guru.
b.         Siswa mencatat hasil pengamatan dari percobaan yang dilakukan oleh guru.
c.         Hasil pengamatan dikumpulkan untuk evaluasi guru kimia.
d.        Percobaan diulang untuk pengamatan lebih seksama dan lebih lengkap.
e.         Siswa menuliskan penjelasan bagi setiap pengamatan yang ditemuinya.
f.          Percobaan pembuktian dilakukan dan diperagakan oleh siswa untuk membenarkan penjelasan yang diajukannya.
g.         Siswa melaporkan hasil percobaan yang dibuktikannya.
h.         Kesimpulan dituliskan dengan kaitan antar konsep yang ada.
i.           Buku catatan percobaan untuk menilai secara instan hasil belajar. (Depdiknas, 2000).

B.       Kerangka Berpikir
Dari kajian teori di atas dapat diduga bahwa:
1.         Peningkatan kemampuan guru kimia dalam mengguanakan alat dan bahan praktikum dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan Starter Eksperimen.
2.         Pendekatan Starter Eksperimen dapat merangsang minat belajar dan perhatian guru untuk memahami konsep-konsep kimia serta informasi yang diperolehnya dapat bertahan lebih lama di dalam struktur ingatan, yang diawali dengan pengamatan lingkungan, memisahkan langkah-langkah penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali, pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi.

C.      Hipotesis Penelitian (Tindakan)
1.         Kemampuan guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum dapat ditingkatkan melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.         Kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum dapat ditingkatkan melalui pendekatan Starter Eksperimen.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini akan dilaksanakan di SMK Negeri 2 Kota Binjai. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu pada bulan Januari sampai dengan Maret 2015, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaporan.

B.       Subyek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang guru mata pelajaran kimia di SMK Negeri 2 Binjai dan satu orang pengawas dinas pendidikan Kota Binjai.
Subjek ditentukan dengan cara purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008:85) yakni guru yang terpilih menjadi subek penelitian adalah guru mata pelajaran kimia SMK.

C.      Prosedur/Disain Penelitian (siklus)
Penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen di SMK Negeri 2 Binjai.
Tindakan yang akan dilakukan adalah praktikum kimia melalui pendekatan Starter Eksperimen. Jenis  penelitian  tindakan  yang  dipilih  adalah  jenis  emansipatori.  Jenis emansipatori  ini  dianggap  paling  tepat  karena  penelitian  ini  dilakukan  untuk mengatasi permasalah pada tempat kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru bersedia melakukan  perubahan  sehingga  kinerjanya  sebagai  pendidik  akan  mengalami perubahan   secara  meningkat.  
Rancangan  penelitian yang digunakan adalah rancangan model Kemmis       yang    terdiri  atas     empat  langkah, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Wardhani, 2007:45). Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan langkah-langkah setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

D.      Teknik dan Instrumen Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Secara rinci prosedur penelitian mengikuti langkah-langkah seperti yang digambarkan pada bagan berikut.
 











Siklus I
1.         Tahap Perencanaan
a.         Menyusun rencana pelaksanaan PTS
b.        Menyusun baseline tentang kemampuan guru kimia
c.         Menyusun langkah-langkah pelaksanaan pendekatan Starter Eksperimen
d.        Menyusun format pemantauan
1)        Lembar observasi
2)        Quality Cheklist
3)        Pedoman wawancara
4)        Format isian
e.         Menyusun instrumen evaluasi kemampuan guru
f.         Menyusun jadwal kegiatan
g.        Menyusun format dokumen foto sesuai dengan tahapan kegiatan

2.         Tahap Pelaksanaan
a.         Penyampaian surat izin.
b.        Melakukan kordinasi dan audiensi tentang pelaksanaan PTS.
c.         Melakukan pengisian instrumen baseline kemampuan guru kimia.
d.        Mensupport dan memfasilitasi guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
e.         Membimbing dan memberi contoh kepada guru dalam  melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen.
f.         Menyusun dokumen foto pelaksanaan kegiatan.
3.         Tahap Pengamatan/Pengumpulan Data
1.        Melakukan pemantauan dan pengamatan terhadap perkembangan kemampuan guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
2.        Mengisi format pemantauan, meliputi :
a.         Lembar observasi.
b.        Quality checklist.
c.         Pedoman wawancara
d.        Format isian.
3.        Melakukan evaluasi kemampuan guru kimia
4.        Menyusun dokumen foto pemantauan kegiatan.

4.         Tahap Analisis dan Refleksi
a.         Melakukan pengolahan data dan menggambarkan trend perkembangan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum.
b.        Mereview kesesuaian pelaksanaan tindakan berjalan sesuai rencana.
c.         Mengidentifikasi kendala dan kelemahan selama proses tindakan.
d.        Mengidentifikasi kelebihan/ keunggulan dalam proses tindakan yang sudah dilaksanakan. 
e.         Mengidentifikasi bentuk perubahan perilaku dan kemampuan guru kimia.
f.         Mengidentifikasi rekomendasi teknis untuk memaksimalkan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.

Siklus II
Pada dasarnya siklus II memiliki prosedur yang sama dengan siklus I, tetapi harus dilakukan evalusi, sehingga pada siklus berikutnya telah mengalami revisi perencanaan.

E.       Teknik Analisis Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda, angket, wawancara, observasi, dan diskusi.
1.         Tes,  digunakan untuk mengetahui kompetensi guru sebelum dan sesudah melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.         Angket adalah alat untuk mengetahui pendapat atau sikap guru tentang pelaksanaan praktikum dan dijawab secara tertulis. Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup.
3.         Wawancara, untuk mengetahiu kemampuan awal yang dimiliki guru tentang pendekatan Starter Eksperimen
4.         Observasi, menggunakan lembar observasi aktivitas guru dalam melaksanakan langkah-langkah pendekatan Starter Eksperimen pendekatan Starter Eksperimen.
5.         Diskusi, dilakukan untuk memperdalam kajian tentang pendekatan Starter Eksperimen antara peneliti, guru dan pengawas.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
Data aktivitas guru selama pembelajaran diamati oleh pengamat dan dianalisis dengan menggunakan skor. Untuk melihat peningkatan kompetensi guru dilakukan perbandingan antara hasil pretes dan postes. Untuk menghitung persentase perolehan nilai (PPN) digunakan rumus sebagai berikut:
               Kriteria Persentase Perolehan Nilai (PPN) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
   0 % < PPN < 64 % artinya guru belum berkompetensi
   65 % < PPN < 100 % artinya guru telah berkompetensi
Guru dinyatakan berkompetensi apabila nilai yang diperoleh lebih besar atau sama dengan nilai PPN.
Menganalisis data hasil angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

F.       Indikator Kinerja Penelitian
Dalam Penelitian ini yang akan dilihat indikator kinerjanya adalah guru kimia di SMK Negeri 2 Binjai melalui tes, angket dan observasi.
DAFTAR PUSTAKA


Adrian., (2004), Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa, http://researchengines.com/artos.65.html.
Arifin, A.J.N., Cahyana, U., dan Sutanto, S., (2007), Larutan Elektrolit dan Non   Elektrolit, http://www.e-dukasi.net/mol/mo-full.php?mioid=69&fname=htm.
Arifin, M., Sudja, W.A., Ismail, A.K., Mulyono., Wahyu, W., (2005), Strategi Belajar Mengajar Kimia, UNM, Malang.
Depdiknas, (2000), Metode Alternatif Belajar/Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam,   Dikmenum, Jakarta.

Djamarah, S.B., dan Zain, A., (2002), Strategi Belajar Mengajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Joseph, G., (2007), CSSC Produces Science Teaching Manuals, http://www. Interchurch.org/resources/uploads/file.

Jupri., (2007), Metodologi Mengajar Tanpa Kekerasan dan Menyenangkan, http://genpositif.org/global/smp/jupri.

Kunandar, (2007). Guru Profesional Impelementasi KTSP dan Sukses dalam            Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Mardapi, D., (2000), Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar SMU, Depdiknas, Jakarta.

Martiningsih., (2007), Beberapa Metode Mengajar, http://martiningsih.blogspot.
Memes, W., (2002), Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Metode Alternatif Model Pembelajaran IPA Yang Berwawasan Sains dan Teknologi Untuk Mensukseskan Pendidikan Dasar, Jurnal MIPA 31: 52-56.

Sagala, Syaiful. 2009. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu            Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sani, R.A., (2003), Perlunya Eksperimen Dalam Pembelajaran IPA, Pelangi Pendidikan 10 (2): 108-111.

Sardiman, A.M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sholahuddin, A., (2001), Pemberdayaan Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya Menumbuhkembangkan Sikap Positif Terhadap Lingkungan, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 032: 618.
Situmorang, M., Purba, J., dan Tambunan, M., (2000), Efektifitas Media Peta Konsep Dalam Pengajaran Kimia Konsep Mol di Sekolah Menengah Umum, Pelangi Pendidikan 7(1): 29.

Sudjana, (2002), Metoda Statistika, Penerbit Tarsito, Bandung.

Urip., (2007), Mengajar/Belajar Kimia Tanpa Eksperimen, http://urip.wordpress.com.

Usman, M.U., (2002), Menjadi Guru Profesional, PT Remaja Rosda Karya, Bandung

Winarti, A., dan Irhasyuarna, Y., (2004), Optimalisasi Peran Laboratorium Sebagai Upaya Menyiapkan Pembelajaran Kimia di SMU Dalam Menghadapi Abad Ke-21, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Ed Khusus 2004: 155.

Wiyanto., Sopyan, A., Nugroho., dan Wibowo, S.W., (2007), Potret Pembelajaran Sains di SMP dan SMA, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha 2: 386.

Yandani, R., (2006), Analisis Kesulitan Guru Kimia Dalam Pelaksanaan Praktikum KBK Pada Pengajaran Kimia se-Kota Binjai, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.

Yasa, P., (1999), Pembelajaran Fisika Berwawasan Teknologi Masyarakat Dengan Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Upaya Penyempurnaan Pembelajaran Menuju Literasi Sains pada SLTP Negeri di Singaraja, Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja 2: 61-62.



s Akhir Mata Kuliah Metode Penelitian Pendidikan


Proposal Penelitian Tindakan Sekolah


PENINGKATAN KEMAMPUAN GURU KIMIA DALAM PRAKTIKUM MELALUI PENDEKATAN STARTER EKSPERIMEN DI SMK NEGERI 2 BINJAI



NAMA                    : AFRIZEN
NIM              : 8146132031
KELAS        : A1 W
PRODI         : AP Kepengawasan
DOSEN        : Dr. DARWIN, M.Pd




 

















           
PRODI ADMINISTRASI PENDIDIKAN

PROGRAM PASCASARJANA

U N I M E D
2014
KATA PENGANTAR


Puji dan syukur marilah kita ucapkan kehadirat Allah SWT, atas segala rahmat dan KaruniaNya yang memberikan kesehatan dan hikmah kepada penyusun, sehingga proposal ini dapat diselesaikan dengan baik sesuai dengan waktu yang direncanakan.
Proposal PTS ini berjudul ”Peningkatan Kemampuan Guru Kimia Dalam Praktikum Melalui Pendekatan Starter Eksperimen di SMK Negeri 2 Binjai” disusun untuk memenuhi tugas individu pada mata kuliah Metode Penelitian Pendidikan Prodi Administrasi Pendidikan Konsentrasi Kepengawasan.
Penyusun telah berupaya dengan semaksimal mungkin dalam penyelesaian proposal ini, namun penyusun menyadari masih banyak kelemahan baik dari segi tata bahasa, untuk itu penyusun mengharapkan saran dan kritik yang bersifat membangun dari pembaca demi sempurnanya proposal ini. Kiranya isi proposal ini bermanfaat  dalam memperkaya khasanah ilmu pendidikan.


                                                                            Medan, 29 Desember 2014
                                                                                         Penyusun,
        















DAFTAR ISI

                                                                                                                  Hal
Kata Pengantar.............................................................................................. i
Daftar Isi....................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN............................................................................ 1
A. Latar Belakang Masalah......................................................................... 1
B. Identifikasi Pemecahan Masalah............................................................ 2
C. Penetapan Fokus Area............................................................................ 4
D. Perumusan Masalah................................................................................ 5
C. Tujuan Penelitian.................................................................................... 5
D. Manfaat Penelitian.................................................................................. 5

BAB II KAJIAN TEORI............................................................................. 6
A. Deskripsi Teori......................................................................................... 6
1. Kemampuan Guru.............................................................................. 6
2. Pendekatan Starter Eksperimen........................................................ 7
B. Kerangka Berpikir................................................................................ 11
C. Hipotesis Penelitian (Tindakan)............................................................ 11

BAB III METODE PENELITIAN.......................................................... 12
A.  Tempat dan Waktu Penelitian............................................................. 12
B.  Subyek Penelitian.................................................................................. 12
C.  Prosedur/Disain Siklus Penelitian....................................................... 12
D.  Teknik dan Instrumen Penelitian........................................................ 13
E.  Teknik Analisis Data............................................................................ 16
F.  Indikator Kinerja Penelitian................................................................ 17

DAFTAR PUSTAKA




BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang Masalah
Pengalaman pendidikan yang sering dihadapi oleh guru-guru kimia di sekolah menengah adalah kebanyakan siswa menganggap mata pelajaran kimia sebagai mata pelajaran yang sulit, sehingga siswa sudah terlebih dahulu merasa kurang mampu untuk mempelajari kimia. Hal ini mungkin disebabkan oleh penyajian materi yang kurang menarik dan membosankan, sehingga terkesan ”angker”, sulit, dan menakutkan bagi siswa Sekolah  Menengah Umum (SMU), dan akhirnya banyak siswa SMU yang kurang menguasai konsep dasar kimia (Sakkashiri dalam Situmorang, 2000).
Berdasarkan pengalaman penulis di sekolah PPLT 2007 menunjukkan bahwa banyak alat-alat dan bahan kimia di laboratorium SMA dalam kondisi rusak, menumpuk dan tidak terawat karena jarang digunakan pada pembelajaran kimia. Hal ini diperkuat oleh hasil penelitian Yandani (2006) menunjukkan bahwa pelaksanaan praktikum pada pengajaran kimia SMA di kota Binjai belum optimal, yaitu sebanyak 12,5% responden (guru kimia) menyatakan tidak pernah melaksanakan praktikum pada pengajaran kimia di sekolah dan hanya 31,25% responden yang menguasai penggunaan seluruh alat-alat yang tersedia pada laboratorium kimia. Artinya, kemampuan guru kimia masih rendah dalam melaksanakan praktikum di sekolah.
Beberapa hal yang biasanya dijadikan alasan, diantaranya: (1) Sarana dan prasarana laboratorium kimia di sekolah tidak lengkap; (2) Mahalnya alat-alat dan bahan kimia sehingga tidak dapat dijangkau oleh pihak sekolah; (3) Tidak dimilikinya tenaga laboran yang membantu guru mempersiapkan pelaksanaan praktikum; (4) Terbatasnya alokasi waktu yang tersedia mengingat banyaknya materi kimia yang harus diberikan kepada siswa sesuai tuntutan kurikulum. Sehingga materi kimia yang seharusnya dipraktikumkan, hanya diajarkan secara teori.
Kenyataan yang ada, berdasarkan hasil studi Wiyanto (2007)  menunjukkan bahwa pada umumnya pembelajaran Sains yang cenderung monoton dengan aktivitas Sains termasuk rendah. Guru cenderung berceramah atau menjelaskan, siswa mendengar dan mencatat, dan kegiatan laboratorium jarang dilakukan. Metode eksperimen mempunyai peran dan fungsi yang amat penting dalam pembelajaran materi kimia berkarakter praktikum, tetapi metode ini masih sangat jarang dilakukan di SMA. Menurut Urip (2007) hal ini bisa disebabkan karena tidak adanya guru kimia, tidak tersedianya laboratorium kimia di sekolah, tidak tersedianya alat-alat dan bahan praktikum yang diperlukan, dan guru kimia yang ada tidak mau membimbing praktikum. 

B.       Identifikasi Pemecahan Masalah
Permasalahan rendahnya kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum di sekolah berpangkal dari kurangnya pemahaman guru dalam mengembangkan metode atau pendekatan yang inovatif dalam pembelajaran kimia. Disamping itu laboratorium kimia sebagai sumber belajar belum dimanfaatkan secara optimal. Kreativitas guru kimia dalam mengelola kegiatan laboratorium pada pengajaran kimia belum menunjukkan pengajaran yang inovatif sehingga materi kimia yang berkarakter praktikum diajarkan dengan metode konvensional. Sementara dalam mata pelajaran kimia pencapaian kemampuan siswa seyogianya harus diukur atas kemampuan teori dan praktek.
Pemilihan metode pengajaran yang tepat sangat menentukan di dalam peningkatan hasil belajar siswa. Metode pengajaran akan mampu meningkatkan motivasi dan daya serap siswa terhadap mata pelajaran yang disampaikan. Untuk menjadikan ilmu kimia sebagai ilmu yang konkrit sekaligus dapat mengaktifkan indera seluruh siswa, maka metode yang tepat dipakai adalah metode eksperimen. Laporan hasil penelitian Sholahuddin (2001) menekankan bahwa pemberdayaan mata pelajaran IPA termasuk kimia dapat dicapai jika proses belajar mengajar melibatkan metode eksperimen. Jadi, tidak sekedar interaksi satu arah dan hafalan (rote learning) tetapi belajar yang sesungguhnya (meaningfull learning).
Metode alternatif dalam pengajaran mata pelajaran kimia berkarakter praktikum di SMA adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka (Depdiknas, 2000). Pendekatan Starter Eksperimen ini dapat menjadi solusi dari keterbatasan waktu, fasilitas, sarana dan prasarana laboratorium yang sering menjadi kendala bagi guru kimia dalam melaksanakan kegiatan praktikum. Kelebihan Pendekatan Starter Eksperimen adalah sebagai berikut: (1) Laboratorium tidak harus mutlak diperlukan dalam pelaksanaan praktikum; (2) Keterbatasan sarana dan prasarana laboratorium dapat diatasi dengan membuat suatu rancangan praktikum sederhana di dalam kelas dengan memakai bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dari lingkungan; (3) Dapat menghemat biaya pembelian alat dan bahan-bahan kimia; (4) Alokasi waktu singkat karena materi tidak diceramahkan lagi; (5) Dapat mengembangkan pola berfikir, penguasaan konsep, keterampilan dan sikap siswa secara optimal.
Hasil penelitian Yasa (1999) menunjukkan bahwa pembelajaran dengan Pendekatan Starter Eksperimen mampu meningkatkan hasil belajar siswa, dimana rerata skor hasil belajar mencapai 7,20 (melebihi skor hasil belajar minimal, yaitu 6,5 ke atas) dengan ketuntasan belajar mencapai 91%. Di samping itu penelitian Memes (2002) menunjukkan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen dapat meningkatkan kualitas pembelajaran ditinjau dari profil pembelajaran yang lebih kondusif. Rerata hasil belajar melebihi skor standar minimum (6,0) yaitu 7,37 dengan ketuntasan belajar 96,77%. Menurut Joseph (2007) TSSO-Ed (Technical Support Services Officer for Education) telah mempublikasikan bahwa pemerintahan Jerman sudah berhasil menemukan inovasi pengajaran program IPA melalui dari pengalaman dan perkembangan terpenting selama guru menerapkan Pendekatan Starter Eksperimen ini.

C.      Penetapan Focus Area
Berdasarkan latar belakang dan identifikasi pemecahan masalah, maka dirumuskan fokus area penelitian:
Upaya peningkatan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen
D.      Perumusan Masalah
1.    Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.    Bagaimana peningkatan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.

E.       Tujuan Penelitian
PTS yang dilakukan di SMK Negeri 2 Binjai ini bertujuan untuk:
1.    Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.    Meningkatkan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.

F.       Manfaat Penelitian
Apabila tujuan tersebut di atas dapat tercapai, maka hasil penelitian akan bermanfaat, terutama:
1.         Bagi Pengawas, meningkatnya profesionalisme pengawas dalam melaksanakan tugas dan fungsinya, khususnya dalam hal upaya peningkatan profesionalisme guru binaannya.
2.         Bagi Guru, sebagai informasi dan stimulan untuk mengembangkan kemampuan dalam menerapkan pendekatan Starter Eksperimen sebagai pembelajaran yang inovatif.


BAB II
KAJIAN TEORI
A.      Deskripsi Teori
1.      Kemampuan Guru
Menurut Usman (2005) kompetensi adalah suatu hal yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik yang kualitatif maupun kuantitatif. Pengertian ini mengandung bahwa kompetensi itu dapat digunakan dala dua konteks, yakni: pertama, sebagai indkator kemampuan yang menunjukkan kepada perbuatan yang diamati. Kedua sebagai konsep yang mencakup aspek-aspek  kognitif, efektif, dan perbuatan serta tahap-tahap pelaksanannya secara utuh. Sedangkan Roestiyah (1989) mengartikan kompetensi seperti yang dikutipnya dari pendapat W. Robert Houston sebagai “suatu tugas memamdai atau pemilikan pengetahuan, keterampilan, dan kemampuan yang dituntut oleh jabatan tertentu.
Kompetensi juga dapat diartikan sebagai pengetahuan, keterampilan dan kemampuan yang dikuasai oleh seseorang yang telah menjadi bagian dari dirinya sehingga ia dapat melakukan perilaku-perilaku kognitif, afektif, dan psikomotorik dengan sebaik-baiknya (Mulyasa, 2003).
Menurut Sagala (2008: 29) kompetensi adalah kemampuan melaksanakan sesuatu yang diperoleh melalui pendidikan dan latihan. Dengan demikian, istilah kompetensi sangat kontekstual dan tidak universal untuk semua jenis pekerjaan. Setiap jenis pekerjaan memerlukan porsi yang berbeda-beda antara pengetahuan, sikap, dan ketrampilannya. Pekerjaan-pekerjaan berkerah putih, pengetahuan lebih besar porsinya daripada sikap dan keterampilan, dan pekerjaan berkerah biru memerlukan porsi keterampilan fisik lebih besar daripada pengetahuan dan sikap.
Guru adalah pendidik professional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing,  mengarahkan, melatih, menilai dan menevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah. Profesi guru merupakan bidang pekerjaan khusus yang dilaksanakan berdasarkan prinsip sebagai berikut: (1) memiliki bakat, minat, panggilan jiwa, dan idealism; (2) memiliki komitmen untuk meningkatkan mutu pendidikan, keimanan, ketakwaan, dan akhlak mulia; (3) memiliki kualifikasi akademik ddan latar belakang pendidikan yang sesuai dengan bidang tugas; (4) memiliki kompetensi yang diperlukan sesuai dengan bidang tugas; (5) memiliki tanggung jawab atas tugas keprofesionalan; (6) memperoleh penghasilan yang ditentukan sesuai dengan prestasi kerja; (7) memiliki kesempatan untuk mengembangkan keprofesionalan secara berkelanjutan dengan belajar sepanjang hayat; (8) memiliki jaminan perlindungan hokum dalam melaksanakan tugas keprofesionalan; (9) memiliki organisasi profesi yang mempunyai kewenangan mengatur hal-hal yang berkaitan dengan tugas keprofesionalan guru (Kunandar, 2007).

2.      Pendekatan Starter Eksperimen
Belajar melalui praktek atau mengalami secara langsung akan lebih efektif mampu membina sikap, keterampilan, cara berfikir kritis dan lain-lain, bila dibandingkan dengan belajar hafalan saja (Sardiman, 2006). Hal ini sejalan dengan pendapat Sani (2003) bahwa pembelajaran IPA yang dapat mengembangkan pola berpikir siswa harus dilakukan dengan menggunakan eksperimen. Metode eksperimen (percobaan) adalah cara penyajian pelajaran, dimana siswa melakukan percobaan dengan mengalami dan membuktikan sendiri, mengikuti suatu proses, mengamati suatu objek, menganalisis, membuktikan dan menarik kesimpulan sendiri mengenai suatu objek, keadaan ataupun proses sesuatu (Djamarah, 2002). Selanjutnya Arifin (2005) menyatakan bahwa fungsi dari metode eksperimen merupakan penunjang kegiatan proses belajar untuk menemukan prinsip tertentu atau menjelaskan tentang prinsip-prinsip yang dikembangkan.
Untuk mencapai tujuan pembelajaran materi kimia yang berkarakter praktikum secara efektif dan efesien, maka diperlukan suatu pendekatan yang tepat. Hal ini sejalan dengan pendapat Winarti (2004) bahwa “pengajaran sains memerlukan pemberdayaan secara optimal semua perangkat pembelajaran yang mendukung, diantaranya pemilihan metode dan pendekatan yang tepat serta penggunaaan semaksimal mungkin semua sumber belajar yang ada”. Depdiknas (2000) mengemukakan bahwa pendekatan yang dianggap paling tepat dalam pembelajaran kimia adalah Pendekatan Starter Eksperimen atau Pendekatan Percobaan Pembuka. Dalam pendekatan ini siswa dituntut lebih banyak aktif mencoba, atau diberikan peragaan, mencatat, menyimpulkan, dan diberikan umpan balik pada saat itu juga dalam bentuk diskusi aktif dalam kelompok maupun pleno di kelas. Materi pelajaran tidak perlu lagi diceramahkan di kelas, mengingat siswa telah diberikan tugas baca di rumah dengan bahan ajar yang lengkap.
Selanjutnya Memes (2002) mengemukakan bahwa penerapan Pendekatan Starter Eksperimen bertujuan untuk memperbaiki aktivitas belajar mengajar dan dalam hal mata pelajaran. Percobaan awal atau percobaan pembuka dapat menumbuhkembangkan minat dan perhatian siswa terhadap topik yang akan dibahas. Pendekatan Starter Eksperimen dianggap sebagai pendekatan yang revolusioner tanpa rencana dan dibentuk oleh tujuh unsur yang diawali dengan pengamatan lingkungan, dilanjutkan dengan memisahkan langkah-langkah penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali peranan guru sebagai stimulator dan organisator, pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi kepada siswa.
Dalam Pendekatan Starter Eksperimen yang diusulkan, keaktifan maupun mutu penguasaan siswa dalam kegiatan belajar langsung kelihatan dari kinerjanya selama percobaan ataupun selama kegiatan berdiskusi.  Dengan demikian guru dapat menilai siswa secara langsung dalam kegiatan belajar mengajar di kelas. Selain dengan cara memberikan ulangan harian, kesempatan tanya jawab dan diskusi sebelum, selama maupun sesudah kegiatan belajar mengajar dapat menjadi petunjuk yang baik bagi guru untuk menilai masing-masing siswa secara individual.
Keluaran (output) yang diharapkan dengan diterapkannya Pendekatan Starter Eksperimen harus lebih menekankan pada penyelesaian persoalan kompleks (terpadu) secara kreatif. Melalui observasi langsung maka kemampuan kognitif, keterampilan maupun afektif siswa dapat langsung dievaluasi. Beberapa aspek komprehensif siswa yang tidak dapat dimunculkan selama kegiatan belajar dapat dievaluasi dengan sistem ulangan/tes.
Pada pendekatan ini siswa diharapkan banyak melakukan pengamatan, kemudian seketika dibenarkan bila pengamatan menyimpang jauh dari sasaran. Setelah mengamati kemudian disusul dengan pembuktian yang telah dirancangnya, siswa kemudian menarik kesimpulan-kesimpulan umum. Pengamatan maupun percobaan dilakukan oleh siswa secara berkelompok dengan jumlah siswa maksimum 5 orang. Observasi langsung dilakukan secara interaktif terhadap peragaan yang dilakukan oleh guru. Objek observasi sedapat mungkin adalah benda-benda yang ada di lingkungan hidup sehari-hari dan peralatan serta bahan-bahan kimia yang mudah diperoleh dan dijangkau.
Adapun tahapan-tahapan dalam Pendekatan Starter Eksperimen pada materi kimia berkarakter praktikum adalah sebagai berikut:
a.         Siswa diminta mengamati peragaan yang dilakukan oleh guru.
b.         Siswa mencatat hasil pengamatan dari percobaan yang dilakukan oleh guru.
c.         Hasil pengamatan dikumpulkan untuk evaluasi guru kimia.
d.        Percobaan diulang untuk pengamatan lebih seksama dan lebih lengkap.
e.         Siswa menuliskan penjelasan bagi setiap pengamatan yang ditemuinya.
f.          Percobaan pembuktian dilakukan dan diperagakan oleh siswa untuk membenarkan penjelasan yang diajukannya.
g.         Siswa melaporkan hasil percobaan yang dibuktikannya.
h.         Kesimpulan dituliskan dengan kaitan antar konsep yang ada.
i.           Buku catatan percobaan untuk menilai secara instan hasil belajar. (Depdiknas, 2000).

B.       Kerangka Berpikir
Dari kajian teori di atas dapat diduga bahwa:
1.         Peningkatan kemampuan guru kimia dalam mengguanakan alat dan bahan praktikum dapat dilakukan dengan menerapkan pendekatan Starter Eksperimen.
2.         Pendekatan Starter Eksperimen dapat merangsang minat belajar dan perhatian guru untuk memahami konsep-konsep kimia serta informasi yang diperolehnya dapat bertahan lebih lama di dalam struktur ingatan, yang diawali dengan pengamatan lingkungan, memisahkan langkah-langkah penting, bekerja dalam kelompok, menyampaikan gagasan strategi konsep, mendefinisikan kembali, pengetahuan ingatan menuju pada pemahaman serta memberikan motivasi.

C.      Hipotesis Penelitian (Tindakan)
1.         Kemampuan guru kimia dalam menggunakan alat dan bahan praktikum dapat ditingkatkan melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.         Kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum dapat ditingkatkan melalui pendekatan Starter Eksperimen.



BAB III
METODE PENELITIAN

A.      Tempat dan Waktu Penelitian
Penelitian tindakan sekolah ini akan dilaksanakan di SMK Negeri 2 Kota Binjai. Sedangkan waktu penelitian akan dilaksanakan selama 3 (tiga) bulan, yaitu pada bulan Januari sampai dengan Maret 2015, mulai dari tahap perencanaan sampai dengan pelaporan.

B.       Subyek Penelitian
Subjek dalam penelitian ini adalah tiga orang guru mata pelajaran kimia di SMK Negeri 2 Binjai dan satu orang pengawas dinas pendidikan Kota Binjai.
Subjek ditentukan dengan cara purposive, yaitu teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu (Sugiyono, 2008:85) yakni guru yang terpilih menjadi subek penelitian adalah guru mata pelajaran kimia SMK.

C.      Prosedur/Disain Penelitian (siklus)
Penelitian ini adalah penelitian tindakan (action research) yang bertujuan untuk meningkatkan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen di SMK Negeri 2 Binjai.
Tindakan yang akan dilakukan adalah praktikum kimia melalui pendekatan Starter Eksperimen. Jenis  penelitian  tindakan  yang  dipilih  adalah  jenis  emansipatori.  Jenis emansipatori  ini  dianggap  paling  tepat  karena  penelitian  ini  dilakukan  untuk mengatasi permasalah pada tempat kerja peneliti sendiri berdasarkan pengalaman sehari-hari. Dengan kata lain, berdasarkan hasil observasi, refleksi diri, guru bersedia melakukan  perubahan  sehingga  kinerjanya  sebagai  pendidik  akan  mengalami perubahan   secara  meningkat.  
Rancangan  penelitian yang digunakan adalah rancangan model Kemmis       yang    terdiri  atas     empat  langkah, yakni perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi (Wardhani, 2007:45). Penelitian ini akan dilaksanakan dalam dua siklus, dan langkah-langkah setiap siklus terdiri dari perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi.

D.      Teknik dan Instrumen Penelitian
Penelitian ini direncanakan dilakukan dalam dua siklus. Masing-masing siklus terdiri atas perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Secara rinci prosedur penelitian mengikuti langkah-langkah seperti yang digambarkan pada bagan berikut.


 











Siklus I
1.         Tahap Perencanaan
a.         Menyusun rencana pelaksanaan PTS
b.        Menyusun baseline tentang kemampuan guru kimia
c.         Menyusun langkah-langkah pelaksanaan pendekatan Starter Eksperimen
d.        Menyusun format pemantauan
1)        Lembar observasi
2)        Quality Cheklist
3)        Pedoman wawancara
4)        Format isian
e.         Menyusun instrumen evaluasi kemampuan guru
f.         Menyusun jadwal kegiatan
g.        Menyusun format dokumen foto sesuai dengan tahapan kegiatan

2.         Tahap Pelaksanaan
a.         Penyampaian surat izin.
b.        Melakukan kordinasi dan audiensi tentang pelaksanaan PTS.
c.         Melakukan pengisian instrumen baseline kemampuan guru kimia.
d.        Mensupport dan memfasilitasi guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
e.         Membimbing dan memberi contoh kepada guru dalam  melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen.
f.         Menyusun dokumen foto pelaksanaan kegiatan.
3.         Tahap Pengamatan/Pengumpulan Data
1.        Melakukan pemantauan dan pengamatan terhadap perkembangan kemampuan guru dalam melaksanakan pendekatan Starter Eksperimen
2.        Mengisi format pemantauan, meliputi :
a.         Lembar observasi.
b.        Quality checklist.
c.         Pedoman wawancara
d.        Format isian.
3.        Melakukan evaluasi kemampuan guru kimia
4.        Menyusun dokumen foto pemantauan kegiatan.

4.         Tahap Analisis dan Refleksi
a.         Melakukan pengolahan data dan menggambarkan trend perkembangan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum.
b.        Mereview kesesuaian pelaksanaan tindakan berjalan sesuai rencana.
c.         Mengidentifikasi kendala dan kelemahan selama proses tindakan.
d.        Mengidentifikasi kelebihan/ keunggulan dalam proses tindakan yang sudah dilaksanakan. 
e.         Mengidentifikasi bentuk perubahan perilaku dan kemampuan guru kimia.
f.         Mengidentifikasi rekomendasi teknis untuk memaksimalkan kemampuan guru kimia dalam melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.

Siklus II
Pada dasarnya siklus II memiliki prosedur yang sama dengan siklus I, tetapi harus dilakukan evalusi, sehingga pada siklus berikutnya telah mengalami revisi perencanaan.

E.       Teknik Analisis Data
Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini adalah tes pilihan ganda, angket, wawancara, observasi, dan diskusi.
1.         Tes,  digunakan untuk mengetahui kompetensi guru sebelum dan sesudah melaksanakan praktikum melalui pendekatan Starter Eksperimen.
2.         Angket adalah alat untuk mengetahui pendapat atau sikap guru tentang pelaksanaan praktikum dan dijawab secara tertulis. Jenis angket yang digunakan adalah angket tertutup.
3.         Wawancara, untuk mengetahiu kemampuan awal yang dimiliki guru tentang pendekatan Starter Eksperimen
4.         Observasi, menggunakan lembar observasi aktivitas guru dalam melaksanakan langkah-langkah pendekatan Starter Eksperimen pendekatan Starter Eksperimen.
5.         Diskusi, dilakukan untuk memperdalam kajian tentang pendekatan Starter Eksperimen antara peneliti, guru dan pengawas.
Data yang dikumpulkan pada setiap kegiatan observasi dari pelaksanaan siklus penelitian dianalisis secara deskriptif dengan menggunakan teknik persentase untuk melihat kecenderungan yang terjadi dalam kegiatan pembelajaran.
Data aktivitas guru selama pembelajaran diamati oleh pengamat dan dianalisis dengan menggunakan skor. Untuk melihat peningkatan kompetensi guru dilakukan perbandingan antara hasil pretes dan postes. Untuk menghitung persentase perolehan nilai (PPN) digunakan rumus sebagai berikut:
               Kriteria Persentase Perolehan Nilai (PPN) yang digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut :
   0 % < PPN < 64 % artinya guru belum berkompetensi
   65 % < PPN < 100 % artinya guru telah berkompetensi
Guru dinyatakan berkompetensi apabila nilai yang diperoleh lebih besar atau sama dengan nilai PPN.
Menganalisis data hasil angket dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

F.       Indikator Kinerja Penelitian
Dalam Penelitian ini yang akan dilihat indikator kinerjanya adalah guru kimia di SMK Negeri 2 Binjai melalui tes, angket dan observasi.
DAFTAR PUSTAKA


Adrian., (2004), Metode Mengajar Berdasarkan Tipologi Belajar Siswa, http://researchengines.com/artos.65.html.
Arifin, A.J.N., Cahyana, U., dan Sutanto, S., (2007), Larutan Elektrolit dan Non   Elektrolit, http://www.e-dukasi.net/mol/mo-full.php?mioid=69&fname=htm.
Arifin, M., Sudja, W.A., Ismail, A.K., Mulyono., Wahyu, W., (2005), Strategi Belajar Mengajar Kimia, UNM, Malang.
Depdiknas, (2000), Metode Alternatif Belajar/Mengajar Ilmu Pengetahuan Alam,   Dikmenum, Jakarta.

Djamarah, S.B., dan Zain, A., (2002), Strategi Belajar Mengajar, Penerbit Rineka Cipta, Jakarta.

Joseph, G., (2007), CSSC Produces Science Teaching Manuals, http://www. Interchurch.org/resources/uploads/file.

Jupri., (2007), Metodologi Mengajar Tanpa Kekerasan dan Menyenangkan, http://genpositif.org/global/smp/jupri.

Kunandar, (2007). Guru Profesional Impelementasi KTSP dan Sukses dalam            Sertifikasi Guru. Jakarta: Rajawali Pers.

Mardapi, D., (2000), Pola Induk Sistem Pengujian Hasil KBM Berbasis Kemampuan Dasar SMU, Depdiknas, Jakarta.

Martiningsih., (2007), Beberapa Metode Mengajar, http://martiningsih.blogspot.
Memes, W., (2002), Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Metode Alternatif Model Pembelajaran IPA Yang Berwawasan Sains dan Teknologi Untuk Mensukseskan Pendidikan Dasar, Jurnal MIPA 31: 52-56.

Sagala, Syaiful. 2009. Manajemen Strategik dalam Peningkatan Mutu            Pendidikan. Bandung: Alfabeta.

Sani, R.A., (2003), Perlunya Eksperimen Dalam Pembelajaran IPA, Pelangi Pendidikan 10 (2): 108-111.

Sardiman, A.M., (2006), Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.

Sholahuddin, A., (2001), Pemberdayaan Mata Pelajaran IPA Dalam Upaya Menumbuhkembangkan Sikap Positif Terhadap Lingkungan, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan 032: 618.
Situmorang, M., Purba, J., dan Tambunan, M., (2000), Efektifitas Media Peta Konsep Dalam Pengajaran Kimia Konsep Mol di Sekolah Menengah Umum, Pelangi Pendidikan 7(1): 29.

Sudjana, (2002), Metoda Statistika, Penerbit Tarsito, Bandung.

Urip., (2007), Mengajar/Belajar Kimia Tanpa Eksperimen, http://urip.wordpress.com.

Usman, M.U., (2002), Menjadi Guru Profesional, PT Remaja Rosda Karya, Bandung

Winarti, A., dan Irhasyuarna, Y., (2004), Optimalisasi Peran Laboratorium Sebagai Upaya Menyiapkan Pembelajaran Kimia di SMU Dalam Menghadapi Abad Ke-21, Jurnal Pendidikan dan Kebudayaan, Ed Khusus 2004: 155.

Wiyanto., Sopyan, A., Nugroho., dan Wibowo, S.W., (2007), Potret Pembelajaran Sains di SMP dan SMA, Jurnal Pendidikan dan Pengajaran Undiksha 2: 386.

Yandani, R., (2006), Analisis Kesulitan Guru Kimia Dalam Pelaksanaan Praktikum KBK Pada Pengajaran Kimia se-Kota Binjai, Skripsi, FMIPA, Unimed, Medan.

Yasa, P., (1999), Pembelajaran Fisika Berwawasan Teknologi Masyarakat Dengan Pendekatan Starter Eksperimen Sebagai Upaya Penyempurnaan Pembelajaran Menuju Literasi Sains pada SLTP Negeri di Singaraja, Jurnal Aneka Widya STKIP Singaraja 2: 61-62.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar