Selasa, 14 April 2015

ARTIKEL PENDIDIKAN

OPTIMALISASI KELAS SEBAGAI RUANG PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER SISWA


Afrizen

Kelas A1W Program Studi AP Kepengawasan Unimed


ABSTRAK

Peran guru sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan pendidikan karakter siswa di dalam kelas. Hal ini dikarenakan bahwa seorang guru adalah orang yang paling tahu tentang kondisi dan perkembangan anak didiknya, khususnya yang berkaitan dengan masalah kepribadian atau karakter siswa tersebut. Pembentukan dan pengembangan pendidikan karakter siswa dalam kelas sangat penting dan merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan di sekolah. Melalui peran serta guru dalam mendukung setiap upaya penerapan pendidikan karakter di kelas diharapkan mampu mempercepat proses integrasi nilai-nilai karakter dalam diri komunitas sekolah dan menjadikannya sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan pendidikan karakter dalam kelas secara nyata dapat menumbuhkan watak dan perilaku yang terpuji dari seluruh komunitas sekolah, sehingga sekolah akan mampu membentuk dan menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, berkualitas, terampil dan kompetitif.
Kata Kunci: pendidikan, karakter, guru, kelas.


PENDAHULUAN
Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam pembentukan karakter (watak) peserta didik, rumusan dalam fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut tidak secara nyata diimplementasikan dalam kebijakan pendidikan maupun praktek di sekolah, baik dalam kegiatan proses belajar mengajar dalam kelas maupun di luar kelas. Berbagai kasus yang tidak sejalan dengan etika, norma, moral atau perilaku yang menunjukkan rendahnya karakter telah sedemikian marak dalam masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, perilaku itu tidak sedikit ditunjukkan oleh  orang-orang yang terpelajar dan terdidik (siswa). Ini membuktikan bahwa pendidikan yang diajarkan dalam kelas selama ini kurang berhasil dalam membentuk karakter yang terpujii. Hampir disetiap aspek kehidupan, menunjukkan adanya degradasi atau demoralisasi dalam pembentukan karakter dan kepribadian Pancasila.
Berbagai kasus yang terjadi di Indonesia telah merusak keteladanan peserta didik dalam pembentukan karakter dan kepribadian yang mulia. Seperti tawuran mahasiswa dan antar pelajar, kasus kekerasan terhadap anak didik, kasus narkoba dan perjudian, pornografi dan pornoaksi yang ditunjukkan oleh kalangan siswa, hubungan seks bebas yang menjangkiti siswa dan mahasiswa, dan sebagainya.
Permasalahan yang diuraikan di atas, bisa terjadi karena belum optimalnya penanaman nilai-nilai luhur pancasila terhadap peserta didik dalam kelas yang mengacu pada pembentukan karakter dan budaya bangsa Indonesia. Di samping itu, krisis keteladanan dan kurangnya panutan yang dicerminkan para pendidik, tokoh agama, birokrat pemerintah, elit politik dan elemen masyarakat sehingga menjadikan generasi penerus khususnya peserta didik tumbuh liar, memiliki karakter dan kepribadian yang lemah.
Menyikapi persoalan yang diuraikan di atas, peranan guru dalam membentuk dan mengembangkan pendidikan karakter siswa dalam kelas sangat penting. Guru harus terus berupaya membenahi dan mengembangkan pendidikan karakter yang melibatkan seluruh komunitas sekolah dalam kelas.

KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut Sudrajat (2010), Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan, kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan, maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil.  Dalam pendidikan karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan, termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri.
Hal ini sejalan dengan pendapat Gultom (2011), pendidikan bertujuan untuk pembentukan karakter (soft skill) yang berwujud dalam kesatuan essensial si subjek dengan perilaku dan sikap hidup yang dimilikinya.
Somantrie dan Sumantri (2011) menyatakan bahwa pentingnya pendidikan karakter telah menjadi salah satu prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2010-2014, yaitu pendidikan karakter bangsa dalam rangka penyiapan sumber daya manusia yang berkualitas. Kebijakan tersebut dalam sektor pendidikan membawa implikasi, selain terhadap seluruh birokrasi pendidikan dan stakeholders pendidikan, tetapi juga terhadap satuan pendidikan atau sekolah untuk melaksanakan pendidikan karakter bangsa yang melibatkan semua unsur atau komponen warga sekolah, yaitu guru, peserta didik, karyawan sekolah, komite sekolah, orangtua peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, penerapan pendidikan karakter bangsa sangat penting dan merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan dalam kelas. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan karakter bangsa (Sirajuddin, 2010).
Melalui penerapan pendidikan karakter ini diharapkan semua unsur dalam komunitas sekolah dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter dan menjadikannya sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan demikian, sekolah sebagai salah satu wadah dalam pembinaan karakter bagi komunitas sekolah, secara bersama- sama akan mampu membentuk dan menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, berkualitas, terampil dan kompetitif.

PEMBAHASAN
Proses pembelajaran  secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh para guru bersama peserta didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran terutama perkembangan karakter siswa tentunya memerlukan keahlian tersendiri oleh guru terutama dalam hal pengelolaan kelas. Karena kelas merupakan lingkungan belajar serta merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisir. Lingkungan ini perlu diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Pengelolaan kelas adalah semua upaya dan tindakan guru membina, memobilisasi, dan menggunakan sumber daya kelas secara optimal, selektif dan efektif untuk menciptakan kondisi atau menyelesaikan problema kelas agar proses belajar mengajar dapat berlangsung wajar.
Suatu kondisi belajar optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan dalam mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru dan siswa, dan antara siswa dengan siswa, yang merupakan syarat keberhasilan pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan syarat mutlak bagi terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Dengan demikian siswa dapat belajar dengan suasana yang tenang, dan aman sekaligus dapat membangkitkan minat dan perhatian siswa dalam belajar.
Memperhatikan peranan guru, berikut dapat diuraikan pola tingkah laku guru dalam pengelolaan kelas sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan (Satori, 2008). Pertama, kualitas pembelajaran akan bervariasi sesuai variasi guru. Guru adalah manusia dan manusia adalah unik. Setiap manusia memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Dengan adanya keunikan tersebut lahirlah situasi pembelajaran sesuai ciptaan yang unik pula. Apabila dibeberapa bagian terdapat kesamaan, hal ini mungkin terlibatnya unsur lain yang ikut serta atau bersama-sama mencipta situasi pembelajaran secara utuh. Kedua, kualitas pembelajaran tergantung waktu guru beraksi. Situasi pembelajaran tercipta oleh seorang guru akan berbeda dari waktu ke waktu. Seorang guru A mengajar ceria dipagi hari, akan tetapi berubah ketika mengajar di siang hari. Terkadang guru kaku dan keras, tetapi dilain waktu cukup toleran dan demokratis. Latar belakang psikologis sesaat sangat berpengaruh terhadap aksi guru di dalam kelas. Latar belakang psikologis tersebut tergantung pada: hari, tanggal, jam, suasana, dan lain-lain. Ketiga, kualitas pembelajaran bervariasi tergantung subjek didik. Seorang guru dari rumah berangkat dengan suasana hati yang gembira, sampai di kantor bertemu kepala sekolah dan rekan guru semakin menunjang rasa gembiranya, akan tetapi ketika sampai di kelas bertemu dengan kelompok siswa yang saat itu kurang bergairah, ramai, dan bertingkah laku masing-masing, keceriaan yang seharusnya menambah semangat guru dalam mengajar dapat berubah total karena kelompok siswa yang akan diajar kurang mendukung. Keempat, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru menguasai kurikulum. Kemampuan guru berbeda dalam menterjemahkan kurikulum tingkat kelas. Ada guru yang mengajar secara urut mengikuti kurikulum, ada yang mengikuti buku, ada yang membuat perencanaan, dan tidak jarang yang mengajar sesuai dorongan saat itu. Kondisi demikian jelas akan mempengaruhi kualitas pembelajaran. Kelima, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru memilih metode mengajar.
Manajemen kelas yang baik terarah kepada upaya pencegahan munculnya perilaku bermasalah, dan penataan lingkugan fisik merupakan unsur penting dalam manajemen kelas. Penataan secara fisik harus sejalan dengan tujuan pembelajaran. Wahana lingkungan fisik akan mempengaruhi perilaku peserta didik baik secara langsung maupun melalui perilaku guru, atau melalui tugas-tugas terstruktur yang diberikan guru kepada peserta didik.
Proses belajar yang terjadi diruang kelas menjadi rutinitas dari guru dan peserta didik, tujuan proses belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari peserta didik, salah satu yang harus terbentuk pada diri anak didik adalah karakter yang  memunculkan potensi baik peserta didik dalam bertindak, cara pandang, berpikir, bersikap, dan gagasan. Karakter yang telah terbentuk ini diharapkan menjadi jati diri yang melekat pada anak didik samapi masa depannya.
Pembentukan karakter anak didik merupakan kegiatan guru yang luar biasa dan hanya mampu dilakukan oleh guru yang sangat memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya. Dalam penggunaan wahana kelas sebagai salah satu media pembentukan anak didik karena kelas merupakan tempat rutinitas guru dan peserta didik.
Guru yang dapat mengoptimalisasi kelas sebagai ruang pembentuk karakter peserta didik adalah:
1.     Guru yang memiliki kinerja dan pemahaman yang benar tentang proses pembelajaran yang berkarakter
2.     Guru yang menguasai dan memiliki kemampuan dasar mengajar dengan baik mulai dari: keterampilan bertanya, keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup, keterampilan membimbing diskusi kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengajar kelompok kecil dan perorangan.
3.     Guru menguasai dan memiliki kemampuan manajemen kelas   baik manajerial maupun manajemen psikologis.





PENUTUP
Kesimpulan
a.     Pembentukan dan pengembangan pendidikan karakter siswa dalam kelas sangat penting dan merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan di sekolah
b.     Melalui peran serta guru dalam mendukung setiap upaya penerapan pendidikan karakter di kelas diharapkan mampu mempercepat proses integrasi nilai-nilai karakter dalam diri komunitas sekolah dan menjadikannya sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
c.     Penerapan pendidikan karakter bangsa secara nyata dapat menumbuhkan watak dan perilaku yang terpuji dari seluruh komunitas sekolah, sehingga sekolah akan mampu membentuk dan menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, berkualitas, terampil dan kompetitif.

Saran
a.     Setiap guru diupayakan mampu menjadikan kelas sebagai ruang pembentukan dan pengembangan karakter siswa.
b.     Mengupayakan sosialisasi dalam kelas melalui pelatihan dan pembinaan kepada siswa tentang pendidikan karakter.
c.     Para insan pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah, dan masyarakat diharapkan perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku, pengayaan nilai individu dengan cara menjadi figur keteladanan bagi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA

Gultom, Syawal. 2011. “Penerapan Pendidikan Berkarakter”. Makalah Disampaikan dalam Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Nasional oleh Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) Kota Medan, 19 Februari 2011.

Kemendiknas. 2011. Materi Pengembangan Pendidikan Karakter Bangsa. Jakarta: Direktorat Pembinaan PTK Dikmen.

Kemendiknas. 2011. Pendidikan Karakter di Sekolah Menegah Pertama. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMP.

Sirajuddin, Nursalam. 2010. Mereorientasi Pendidikan Karakter Indonesia.


Sudrajat, Akhmad. 2010. Tentang Pendidikan Karakter. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/tentang-pendidikan-karakter. (Diakses) 23 Mei 2011.



























Tidak ada komentar:

Posting Komentar