OPTIMALISASI KELAS SEBAGAI RUANG PEMBENTUKAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN KARAKTER SISWA
Afrizen
Kelas A1W Program Studi AP
Kepengawasan Unimed
Email: afrizen.nst@gmail.com
ABSTRAK
Peran
guru sangat penting dalam pembentukan dan pengembangan pendidikan karakter
siswa di dalam kelas. Hal ini dikarenakan bahwa seorang guru adalah orang yang
paling tahu tentang kondisi dan perkembangan anak didiknya, khususnya yang
berkaitan dengan masalah kepribadian atau karakter siswa tersebut. Pembentukan
dan pengembangan pendidikan karakter siswa dalam kelas sangat penting dan
merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan di sekolah. Melalui peran serta guru dalam
mendukung setiap upaya penerapan pendidikan karakter di kelas diharapkan mampu
mempercepat proses integrasi nilai-nilai karakter dalam diri komunitas sekolah
dan menjadikannya sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Penerapan
pendidikan karakter dalam kelas secara nyata dapat menumbuhkan watak dan perilaku
yang terpuji dari seluruh komunitas sekolah, sehingga sekolah akan mampu
membentuk dan menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, berkualitas,
terampil dan kompetitif.
Kata Kunci: pendidikan, karakter, guru,
kelas.
PENDAHULUAN
Berdasarkan UU No. 20 Tahun 2003
Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional, menyebutkan bahwa pendidikan
nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk karakter serta
peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa.
Pendidikan nasional bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar
menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak
mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri, dan menjadi warga negara yang
demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam pembentukan karakter (watak) peserta didik, rumusan dalam
fungsi dan tujuan pendidikan nasional tersebut tidak secara nyata
diimplementasikan dalam kebijakan pendidikan maupun praktek di sekolah,
baik dalam kegiatan proses belajar mengajar dalam kelas maupun di luar kelas. Berbagai kasus yang tidak sejalan dengan etika, norma,
moral atau perilaku yang menunjukkan rendahnya karakter telah sedemikian marak
dalam masyarakat. Lebih memprihatinkan lagi, perilaku itu tidak sedikit
ditunjukkan oleh orang-orang yang
terpelajar dan terdidik (siswa). Ini membuktikan bahwa pendidikan yang
diajarkan dalam kelas selama ini kurang
berhasil dalam membentuk karakter yang terpujii. Hampir disetiap aspek kehidupan, menunjukkan
adanya degradasi atau demoralisasi dalam pembentukan karakter dan kepribadian
Pancasila.
Berbagai
kasus yang terjadi di Indonesia telah merusak keteladanan peserta didik dalam
pembentukan karakter dan kepribadian yang mulia. Seperti tawuran mahasiswa dan
antar pelajar, kasus kekerasan terhadap anak didik, kasus narkoba dan
perjudian, pornografi dan pornoaksi yang ditunjukkan oleh kalangan siswa,
hubungan seks bebas yang menjangkiti siswa dan mahasiswa, dan sebagainya.
Permasalahan
yang diuraikan di atas, bisa terjadi karena belum optimalnya penanaman
nilai-nilai luhur pancasila terhadap peserta didik dalam kelas yang mengacu
pada pembentukan karakter dan budaya bangsa Indonesia. Di samping itu, krisis
keteladanan dan kurangnya panutan yang dicerminkan para pendidik, tokoh agama,
birokrat pemerintah, elit politik dan elemen masyarakat sehingga menjadikan
generasi penerus khususnya peserta didik tumbuh liar, memiliki karakter dan
kepribadian yang lemah.
Menyikapi
persoalan yang diuraikan di atas, peranan guru dalam membentuk dan
mengembangkan pendidikan karakter siswa dalam kelas sangat penting. Guru harus
terus berupaya membenahi dan mengembangkan pendidikan karakter yang melibatkan
seluruh komunitas sekolah dalam kelas.
KAJIAN PUSTAKA
Pengertian Pendidikan Karakter
Menurut
Sudrajat (2010), Pendidikan karakter adalah suatu sistem penanaman
nilai-nilai karakter kepada warga sekolah yang meliputi komponen pengetahuan,
kesadaran atau kemauan, dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai tersebut,
baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa (YME), diri sendiri, sesama, lingkungan,
maupun kebangsaan sehingga menjadi manusia insan kamil. Dalam pendidikan
karakter di sekolah, semua komponen (stakeholders) harus dilibatkan,
termasuk komponen-komponen pendidikan itu sendiri.
Hal
ini sejalan dengan pendapat Gultom (2011), pendidikan bertujuan untuk
pembentukan karakter (soft skill)
yang berwujud dalam kesatuan essensial si subjek dengan perilaku dan sikap
hidup yang dimilikinya.
Somantrie
dan Sumantri (2011) menyatakan bahwa pentingnya pendidikan karakter telah
menjadi salah satu prioritas pembangunan pendidikan nasional tahun 2010-2014,
yaitu pendidikan karakter bangsa dalam rangka penyiapan sumber daya manusia
yang berkualitas. Kebijakan tersebut dalam sektor pendidikan membawa implikasi,
selain terhadap seluruh birokrasi pendidikan dan stakeholders pendidikan, tetapi juga terhadap satuan pendidikan
atau sekolah untuk melaksanakan pendidikan karakter bangsa yang melibatkan
semua unsur atau komponen warga sekolah, yaitu guru, peserta didik, karyawan
sekolah, komite sekolah, orangtua peserta didik, dan masyarakat sekitar.
Oleh karena itu, penerapan pendidikan karakter bangsa sangat
penting dan merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan dalam kelas. Hal ini penting dilakukan agar nilai-nilai budaya dan
karakter bangsa itu tetap melekat pada diri anak sehingga tidak terjadi lost generation dalam hal budaya dan
karakter bangsa (Sirajuddin, 2010).
Melalui penerapan pendidikan karakter ini diharapkan
semua unsur dalam komunitas sekolah dapat mengintegrasikan nilai-nilai karakter
dan menjadikannya sebagai perilaku dalam kehidupan sehari-hari. Dengan
demikian, sekolah sebagai salah satu wadah dalam pembinaan karakter bagi
komunitas sekolah, secara bersama- sama akan mampu membentuk dan menghasilkan
peserta didik yang berakhlak mulia, berkualitas, terampil dan kompetitif.
PEMBAHASAN
Proses pembelajaran
secara sadar dan terencana yang dilakukan oleh para guru bersama peserta
didik di dalam kelas untuk mencapai tujuan pembelajaran terutama perkembangan
karakter siswa tentunya memerlukan keahlian tersendiri oleh guru terutama dalam
hal pengelolaan kelas. Karena kelas merupakan lingkungan belajar serta
merupakan suatu aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisir.
Lingkungan ini perlu diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar terarah
kepada tujuan-tujuan pendidikan. Lingkungan yang baik ialah yang bersifat menantang
dan merangsang siswa untuk belajar, memberikan rasa aman dan kepuasan dalam
mencapai hasil belajar yang diharapkan.
Pengelolaan
kelas adalah semua upaya dan tindakan guru membina, memobilisasi, dan
menggunakan sumber daya kelas secara optimal, selektif dan efektif untuk
menciptakan kondisi atau menyelesaikan problema kelas agar proses belajar
mengajar dapat berlangsung wajar.
Suatu
kondisi belajar optimal dapat tercapai jika guru mampu mengatur siswa dan
sarana pengajaran serta mengendalikannya dalam suasana yang menyenangkan dalam
mencapai tujuan pengajaran. Juga hubungan interpersonal yang baik antara guru
dan siswa, dan antara siswa dengan siswa, yang merupakan syarat keberhasilan
pengelolaan kelas. Pengelolaan kelas yang efektif merupakan syarat mutlak bagi
terjadinya proses belajar mengajar yang efektif. Dengan demikian siswa dapat
belajar dengan suasana yang tenang, dan aman sekaligus dapat membangkitkan
minat dan perhatian siswa dalam belajar.
Memperhatikan
peranan guru, berikut dapat diuraikan pola tingkah laku guru dalam pengelolaan
kelas sebagai upaya peningkatan mutu pendidikan (Satori, 2008). Pertama, kualitas pembelajaran akan
bervariasi sesuai variasi guru. Guru adalah manusia dan manusia adalah unik.
Setiap manusia memiliki spesifikasi sendiri-sendiri. Dengan adanya keunikan
tersebut lahirlah situasi pembelajaran sesuai ciptaan yang unik pula. Apabila
dibeberapa bagian terdapat kesamaan, hal ini mungkin terlibatnya unsur lain
yang ikut serta atau bersama-sama mencipta situasi pembelajaran secara utuh. Kedua, kualitas pembelajaran
tergantung waktu guru beraksi. Situasi pembelajaran tercipta oleh seorang guru
akan berbeda dari waktu ke waktu. Seorang guru A mengajar ceria dipagi hari,
akan tetapi berubah ketika mengajar di siang hari. Terkadang guru kaku dan
keras, tetapi dilain waktu cukup toleran dan demokratis. Latar belakang
psikologis sesaat sangat berpengaruh terhadap aksi guru di dalam kelas. Latar
belakang psikologis tersebut tergantung pada: hari, tanggal, jam, suasana, dan lain-lain.
Ketiga, kualitas pembelajaran
bervariasi tergantung subjek didik. Seorang guru dari rumah berangkat dengan
suasana hati yang gembira, sampai di kantor bertemu kepala sekolah dan rekan
guru semakin menunjang rasa gembiranya, akan tetapi ketika sampai di kelas
bertemu dengan kelompok siswa yang saat itu kurang bergairah, ramai, dan
bertingkah laku masing-masing, keceriaan yang seharusnya menambah semangat guru
dalam mengajar dapat berubah total karena kelompok siswa yang akan diajar
kurang mendukung. Keempat, kualitas
pembelajaran tergantung kemampuan guru menguasai kurikulum. Kemampuan guru
berbeda dalam menterjemahkan kurikulum tingkat kelas. Ada guru yang mengajar
secara urut mengikuti kurikulum, ada yang mengikuti buku, ada yang membuat
perencanaan, dan tidak jarang yang mengajar sesuai dorongan saat itu. Kondisi
demikian jelas akan mempengaruhi kualitas pembelajaran. Kelima, kualitas pembelajaran tergantung kemampuan guru memilih
metode mengajar.
Manajemen
kelas yang baik terarah kepada upaya pencegahan munculnya perilaku bermasalah,
dan penataan lingkugan fisik merupakan unsur penting dalam manajemen kelas.
Penataan secara fisik harus sejalan dengan tujuan pembelajaran. Wahana
lingkungan fisik akan mempengaruhi perilaku peserta didik baik secara langsung
maupun melalui perilaku guru, atau melalui tugas-tugas terstruktur yang diberikan
guru kepada peserta didik.
Proses
belajar yang terjadi diruang kelas menjadi rutinitas dari guru dan peserta
didik, tujuan proses belajar adalah terjadinya perubahan tingkah laku dari
peserta didik, salah satu yang harus terbentuk pada diri anak didik adalah
karakter yang memunculkan potensi baik
peserta didik dalam bertindak, cara pandang, berpikir, bersikap, dan gagasan.
Karakter yang telah terbentuk ini diharapkan menjadi jati diri yang melekat
pada anak didik samapi masa depannya.
Pembentukan
karakter anak didik merupakan kegiatan guru yang luar biasa dan hanya mampu
dilakukan oleh guru yang sangat memahami tujuan pendidikan yang sebenarnya.
Dalam penggunaan wahana kelas sebagai salah satu media pembentukan anak didik
karena kelas merupakan tempat rutinitas guru dan peserta didik.
Guru
yang dapat mengoptimalisasi kelas sebagai ruang pembentuk karakter peserta
didik adalah:
1.
Guru yang memiliki kinerja dan pemahaman
yang benar tentang proses pembelajaran yang berkarakter
2.
Guru yang menguasai dan memiliki
kemampuan dasar mengajar dengan baik mulai dari: keterampilan bertanya,
keterampilan memberi penguatan, keterampilan mengadakan variasi, keterampilan
menjelaskan, keterampilan membuka dan menutup, keterampilan membimbing diskusi
kelompok kecil, keterampilan mengelola kelas, keterampilan mengajar kelompok
kecil dan perorangan.
3.
Guru menguasai dan memiliki kemampuan
manajemen kelas baik manajerial maupun manajemen psikologis.
PENUTUP
Kesimpulan
a. Pembentukan
dan pengembangan pendidikan karakter siswa dalam kelas sangat penting dan
merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dikembangkan di sekolah
b. Melalui
peran serta guru dalam mendukung setiap upaya penerapan pendidikan karakter di
kelas diharapkan mampu mempercepat proses integrasi nilai-nilai karakter dalam
diri komunitas sekolah dan menjadikannya sebagai perilaku dalam kehidupan
sehari-hari.
c. Penerapan
pendidikan karakter bangsa secara nyata dapat menumbuhkan watak dan perilaku
yang terpuji dari seluruh komunitas sekolah, sehingga sekolah akan mampu
membentuk dan menghasilkan peserta didik yang berakhlak mulia, berkualitas,
terampil dan kompetitif.
Saran
a. Setiap
guru diupayakan mampu menjadikan kelas sebagai ruang pembentukan dan
pengembangan karakter siswa.
b. Mengupayakan
sosialisasi dalam kelas melalui pelatihan dan pembinaan kepada siswa tentang
pendidikan karakter.
c. Para insan pendidik seperti guru, orang tua, staf sekolah,
dan masyarakat diharapkan perlu menyadari betapa pentingnya pendidikan karakter
sebagai sarana pembentuk pedoman prilaku, pengayaan nilai individu dengan cara
menjadi figur keteladanan bagi peserta didik.
DAFTAR PUSTAKA
Gultom, Syawal.
2011. “Penerapan Pendidikan Berkarakter”.
Makalah Disampaikan dalam Pendidikan dan Pelatihan Tingkat Nasional oleh
Persatuan Guru Swasta Indonesia (PGSI) Kota Medan, 19 Februari 2011.
Kemendiknas.
2011. Materi Pengembangan Pendidikan
Karakter Bangsa. Jakarta: Direktorat Pembinaan PTK Dikmen.
Kemendiknas.
2011. Pendidikan Karakter di Sekolah
Menegah Pertama. Jakarta: Direktorat Pembinaan SMP.
Sirajuddin, Nursalam. 2010. Mereorientasi Pendidikan Karakter Indonesia.
http://metronews.fajar.co.id/read/91257/19/mereorientasi-pendidikan-karakter-indonesia (Diakses) 23 Mei 2011.
Sudrajat,
Akhmad. 2010. Tentang Pendidikan Karakter. http://akhmadsudrajat.wordpress.com/2010/08/20/tentang-pendidikan-karakter. (Diakses) 23
Mei 2011.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar